Thursday, March 16, 2017

GHULUW (BERLEBIH-LEBIHAN)

Ghuluw memiliki arti berlebih-lebihan. Dalam pandangan syariat ghuluw berarti memiliki sikap atau perbuatan yang berlebih-lebihan di dalam perkara agama sehingga melampaui apa yang telah ditetapkan melalui batasan syariat berupa keyakinan maupun perbuatan.
Seseorang dapat memiliki sikap ghuluw disebabkan kepicikannya dalam memahami agama, sehingga ia gagal memahami isi sebenarnya ajaran Islam melalui Al-Quran dan As-sunnah. Ia cepat merasa puas  dengan sikap taqliq-nya (tunduk pada pendapat orang lain), sehingga ia terjebak ketika memahami dam mengamalkan ajaran Islam itu hanya berdasar pada pendapat seseorang, para ustadz, atau kitab-kitab tertentu tanpa memiliki sikap kritis, ia menelan begitu saja semua pengajaran tersebut tanpa memiliki kemauan mencari kebenarannya melalui rujukan yang sudah pasti yaitu Al-Quran dan As-sunnah. Selain itu diakibatkan pula oleh cara ia memahami agama dengan mengikuti kemauan hawa nafsu dan akal pikiran yang bebas tanpa batas, tanpa disertai sikap jujur dan terbuka untuk merujuk pada metoda yang tepat.
Secara umum ghuluw terbagi menjadi dua macam yaitu :
1. Dalam hal akidah atau keyakinan
    Ghuluw dalam bentuk ini misalnya menganggap Nabi Muhammad Saw hidup di dalam kuburnya sehingga mampu memperkenankan doa bagi orang yang datang berdoa di atas kuburnya. Atau menganggap orang-orang shalih tertentu memiliki derajat kenabian bahkan ketuhanan, sehingga ia mengagung-agungkan orang shalih tersebut melebihi Nabi Muhammad, bahkan Tuhan.
2. Dalam tindakan dan ucapan
    Ghuluw dalam tindakan misalnya ia selalu merasa kurang saat melakukan ibadah sehingga ia menambah-nambah ibadah tersebut dengan mengada-adakannya tanpa merujuk pada ajaran yang sudah ditetapkan Allah, ia berpendapat semakin banyak ibadah yang dilakukan semakin baik, padahal di situ terdapat aturan dan ketentuan yang sudah jelas. Sedangkan ghuluw dalam ucapan misalnya seseorang yang dengan mudah menyatakan kekafiran orang lain tanpa memiliki pijakan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sikap ghuluw dapat dihindari jika pada diri seseorang itu ditanamkan sikap ber-Islam dengan sikap ridla lilahi ta'ala, menguatkan keikhlasan, memelihara kejujuran dan kecerdasan ketika memahami dan mengamalkan ajaran Islam, membuka alam pikiran dan jiwanya untuk terus belajar.

Wednesday, March 15, 2017

KEWAJIBAN MENCARI NAFKAH

Setiap manusia diwajibkan untuk dapat menjaga dirinya sendiri dan menjaga orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, menjaga dari gangguan dan juga menjaga dalam memberi nafkah untuk hidupnya berupa makan, minum, pakaian dan sarana-sarana yang dapat mendukung kehidupan lainnya. Kebutuhan akan nafkah dapat dicari dengan cara bekerja yang halal, dengan niat ikhlas, disertai dengan tawakkal (pasrah kepada Allah Swt).
Islam tidak memandang manusia dari tingkat pekerjaannya, yang penting adalah halal. Untuk apa mendapatkan penghasilan yang berlimpah tetapi dicapai dengan cara yang haram, karena orang yang memakan barang haram dapat dipastikan tidak akan masuk surga. Lebih baik bekerja dengan penghasilan yang pas-pasan tetapi lebih barokah dan Allah ridha di dalamnya.
Lalu bagaimanakah caranya bekerja yang baik dan mendapatkan ridha Allah sehingga dalam menjalankan perkerjaannya itu mendapat pula pahala selain upah.
1. Memantapkan niat.
    Setiap berangkat bekerja maka niatkan beribadah untuk mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan keluarga yang menjadi tanggung jawab. Dengan niat karena Allah, dalam bekerja pun akan berpahala dan akan mendapat hasil yang barokah.
2. Mencari pekerjaan yang halal dan diridhai Allah.
    Meskipun pekerjaan yang didapat berupa pekerjaan-pekerjan rendahan semcam buruh tani, pedagang kaki lima atau pegawai rendahan dengan gaji yang jauh dari cukup, tetapi itu lebih baik dan lebih terpuji daripada menjadi perampok atau koruptor. Rasulullah bersabda : "Mencari harta yang halal itu wajib bagi setiap orang Islam".
3. Bersyukur kepada Allah atas segala hasil yang diperoleh.
    Berapa pun hasil yang diperoleh dari bekerja, besar maupun kecil hendaklah selalu disyukuri, karena Allah telah berjanji dalam Qs Ibrahim 7 : "Jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya adzabku sangat pedih".
4. Bekerja dengan jujur.
    Kejujuranlah yang dapat membuat seseorang itu sukses dalam hidupnya, karena kejujuran dapat membentuk manusia untuk saling percaya mempercayai dan menimbulkan rasa saling kasih sayang yang kuat di antara mereka, sehingga akan menciftakan suasana yang tentram saat bekerja.

Kemudian di antara waktu-waktu bekerja jangan sampai lalai pada kewajiban agama seperti shalat lima waktu. Ketika adzan berkumandang sebaiknya hentikan dahulu segala aktivitas dan tunaikan kewajiban shalat. Kewajiban seperti shalat akan memberi pengaruh yang baik pada semangat kerja karena ada semacam keyakinan Allah akan memberikan pertolongan.
   

Tuesday, March 14, 2017

KEILMUAN DALAM BERAGAMA

Begitu banyak umat Islam yang tidak meyakini seutuhnya kemurnian agama Allah, dalam hal ini Islam dan mengabaikan syariat-Nya serta semakin lemah konsentrasinya terhadap pelajaran dan nilai-nilai ke-Islaman karena adanya anggapan bahwa agama adalah semu dan tidak menjadi prioritas bagi masa depan mereka. Sungguh seandainya bila mau lebih teliti lagi maka cukuplah Allah dan Rasul-Nya saja yang menjadi sumber segala ilmu bagi segala aktivitas kehidupan ini. 
Al-Quran di dalamnya terdapat peristiwa-peristiwa yang terjadi jauh sebelum manusia diciftakan hingga peristiwa yang akan datang dan terus menerus terbukti kebenarannya dari zaman ke zaman. Al-Quran adalah satu-satunya yang bisa dijadikan sumber hukum yang adil. Demikian pula dengan hadis-hadis yang bersumber dari Rasulullah menjelaskan segala sesuatu yang tidak tercantum secara khusus dalam Al-Quran dan sebagian lainnya menafsirkan ayat-ayat yang terkandung Al-Quran.
Setiap muslim dituntut untuk memiliki ilmu tentang ke-Islamannya agar pantas mendapat gelar mukmin. Meskipun ilmu bukan sesuatu yang mudah dalam mencapainya, karena betapa banyak umat Islam yang terhambat dan terhenti hanya karena menghadapi musibah ekonomi, bencana alam, kriminal, dll. Diperlukan kesabaran untuk terus menuntutnya. 
Dengan adanya ilmu, baik itu ilmu keduniaan pada umumnya dan ilmu agama pada khususnya maka akan terjadi pembuktian dan timbul keyakinan bahwa segala sesuatu tidak terjadi sendirinya, melainkan ada yang Maha Menciftakan dan Maha Mengatur. Dengan keyakinan inilah iman menjadi mantap, jiwa dan pikiran menjadi tunduk, dan amal-amal menjadi tulus dan penuh pengabdian kepada Allah. Barulah seorang muslim akan menyadari bahwa Islam secara keseluruhan adalah benar dan sempurna.
Alangkah buruknya pernyataan ke-Islaman seseorang kalau tidak disertai keimanan yang dilandasi ilmu yang benar sebagaimana yang diharapkan Allah dan rasulnya, mereka ini termasuk orang yang merugi di akhirat kelak. Allah berfirman dalam Qs An-Nissa 59 : "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya".
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa lunturnya keimanan bermula karena umat Islam tidak taat pada aturan Islam dan lebih mementingkan urusan dunia. Sehingga bukan lagi Al-Quran dan hadis Nabi yang merubah pola pikirnya, tetapi justru pola pikir mereka yang merubah Al-Quran dan hadis menurut hawa nafsu. Maka tak jarang mayoritas umat menjadi terbelakang dalam hal pengetahuan. Tentu tidak layak manusia yang serba lemah menjadi orang yang terlaknat Allah karena sesuatu yang mengakibatkan turunnya kualitas iman. 
Umair bin Jubaib menegaskan : "Yaitu bila kita mengingat-Nya (Allah) dan memiliki rasa takut kepada-Nya, maka itulah (tanda) bertambahnya iman dan apabila kita lalai dan lupa kepada-Nya atau mengabaikan-Nya, maka itulah berkurangnya iman." (Kitab Mushnaf Ibnu Abi Syaibah). 

Saturday, March 11, 2017

TAKWA DALAM KEHIDUPAN

Ketahuilah bahwa sesungguhnya ketakwaan merupakan wasiat Allah untuk segenap umat manusia, baik yang hidup di masa lalu, masa sekarang, maupun masa mendatang, sebagaimana firman Allah dalam Qs An-Nisa' 131 : ".... dan sungguh, kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kamu dan kepada kamu supaya kamu bertakwa kepada Allah...".
Pada awalnya takwa adalah sikap menjaga atau memelihara diri seorang hamba dari segala sesuatu yang ditakuti dan diwaspadai (keburukan atau kejahatannya), kemudian berkembang menjadi sikap menjaga atau memelihara diri dari segala sesuatu yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah. Oleh karena itu, Allah disebut sebagai Ahlut-Takwa, yakni Zat satu-satunya yang berhak untuk ditakuti, diagungkan dan dimuliakan oleh semua hamba-Nya.
Sebagai orang beriman harus berusaha berdiri tegak dengan sifat-sifat orang yang bertakwa, yaitu sebagaimana dijelaskan dalam Qs Al-Baqarah 2-5 bahwa orang bertakwa adalah beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezeki yang telah dikaruniakan Allah kepadanya, beriman kepada Allah dan kitab-kitab Allah lainnya serta yakin akan adanya akherat. 
Dalam Qs Al-Baqarah 177 dijelaskan bahwa orang bertakwa adalah orang yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan hari akhir. Kemudian orang yang bertakwa adalah memberikan harta yang dicintainya kepada para kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang (terlantar) dalam perjalanan, orang yang meminta-minta dan membebaskan hamba sahaya. Selain itu juga mendirikan shalat, menunaikan zakat, memenuhi janjinya apabila berjanji, serta orang yang sabar ketika mengalami kesengsaraan juga penderitaan, dan pada waktu terjadi peperangan. 
Dalam Qs Ali Imran 133 diterangkan bahwa orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit, orang yang mampu menahan amarahnya, memaafkan kesalahan orang lain dan apabila berbuat keji dan zalim terhadap dirinya sendiri, ia segera mengingat Allah dan memohon ampunan dari-Nya.
Terdapat enam buah ketakwaan yang dapat dipertik, lima buah dipetik di dunia, sedangkan sisanya baru dapat dirasakan kelak di akherat.
1. Memperoleh sikap furqaan, yaitu kemampuan untuk membedakan yang benar (haq) dan yang salah (batil). (Al-Anfaal 29).
2. Merasakan hidup yang penuh dengan limpahan barakah atau berkah yang mengucur dari langit dan bumi. ( Al-A'raaf 96).
3. Memberikan jalan keluar dari persoalan hidup yang dihadapi. (At-Thalaaq 2).
4. Mendatangkan rezeki dengan cara atau jalan yang tidak terduga. (at-Thalaaq 3).
5. Mendapatkan kemudahan dalam menangani segala urusan. (At-Thalaaq 4).
6. Menghapus dan mendapat ampunan dosa dari segenap kesalahan, serta memberikan tempat yang layak di surga yang penuh dengan kenikmatan. Itulah buat takwa yang akan dipetik kelak di akherat. (At-Thalaaq 5).
  
Semua kebaikan-kebaikan di dunia yang dilakukan oleh orang bertakwa tentunya akan mendapat balasan secara keseluruhan di akherat kelak, sebagaimana firman Allah dalam Qs Maryam 63 : "Itulah surga yang akan Kami wariskan (berikan) kepada orang yang bertakwa di antara hamba-hamba kami".


Tuesday, March 7, 2017

PENJAGAAN ALLAH PADA ORANG YANG BERPUASA

Dalam melaksanakan puasa Ramadhan, selain mengharapkan barakah atau tambahan berbagai kebaikan dari Allah, rahmah atau curahan kasih sayang Allah dan maghfirah atau mendapat ampunan Allah pada setiap kali melakukan kesalahan, juga mengharapkan perolehan penjagaan Allah Swt, oleh karena itu dalam pelaksanaan puasa harus disertai segala ikhtiar dan kesungguhan.
Terdapat lima kepastian dari janji Allah mengenai penjagaan-Nya terhadap orang-orang yang melaksanakan puasanya dengan sungguh-sungguh, yaitu :
1. Penjagaan terhadap kekuatan ruh
    Allah tidak akan memberikan perlindungan dan penjagaan kepada seseorang yang tidak bertakwa, dalam artian tidak ada penjagaan terhadap rohani orang itu yang berujung pula pada kecelakaan fisik. Karena itu kekuatan rohani seseorang bukan terletak pada harta kekayaan, penguasaan ilmunya yang tinggi dan banyaknya teman, tetapi karena ketakwaannya. Dengan ketakwaan, maka harta, ilmu dan  teman akan bergerak hanya dalam kebaikan.
    Allah berfirman dalam Qs Ar-Radd 37: ".....dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuann kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah". 
   Bentuk-bentuk kekuatan hawa nafsu yang menyebabkan Allah tidak memberikan penjagaan dan perlindungan terhadap diri seseorang, meliputi; mencaci dan mempermainkan Rasul termasuk bagian-bagian syariat yang diteladankannya, menyekutukan Allah dan menghalang-halangi orang yang berada di jalan Allah.
2. Penguatan jasad
    Jika seseorang bisa mengendalikan hawa nafsunya dan setelah rohaninya kuat, maka Allah akan memberikan kekuatan pada jasadnya. Banyak fakta mengenai kekuatan jasad yang diakibatkan kuatnya rohani, misalnya seseorang yang sakit berat, selain ia berikhtiar melakukan pengobatan, ia mendekatkan diri pula kepada Allah dengan sepenuh keikhlasan dan ia mendapat kesembuhan.
    Ada enam manfaat puasa bagi yang melaksanakannya; kesehatan tubuh, rizki penuh berkah, pahasa besar di akhirat, ketajaman dan lurus pandangan, mengendalikan syahwat dan meningkatan martabat orang mukminin menjadi muhsinin
 3. Penguatan kehendak atau cita-cita
    Terutama bagi para pemuda yang kehendak dan cita-citanya masih panjang tentunya diperlukan stabilitas mental yang kokoh berupa pengendalian hawa nafsu, sehingga mereka tidak gampang terpengaruh oleh perbuatan-perbuatan maksiat. Termasuk dalam mencari ilmu dan pengembangan kemampuannya dalam berbagai bidang.
 4. Mengingatkan terhadap kaum dhuafa
    Bulan Ramadhan adalah bulan solidaritas, di bulan ini akan nampak dengan jelas jalinan kasih sayang di antara sesama manusia, sikap solidaritas itu diwujudkan dalam bentuk zakat, infaq, shadaqah dan diakhiri dengan zakat fitrah. 
    Nabi bersabda : "Orang-orang yang memiliki rasa kasih sayang, maka mereka akan disayangi Allah Swt. (Karena itu) kasih sayangilah oleh kamu sekalian penduduk bumi, maka penduduk langit akan menyayangi kamu. Kasih sayang itu emosi dari Allah, barang-siapa yang menyambungkan-nya, maka dia menyambungkannya dengan Allah. Barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya juga." (Abu Daud; al-Turmudzi).
5. Ibadah yang sempurna
    Dikatakan sebagai ibadah yang sempurna karena puasa adalah hanya untuk Allah, dan Allah akan membalasnya, sebagaimana Rasul bersabda dalam sebuah hadis qudsi : "Setiap amal anak adam baginya, maka kebaikan itu diberi pahala kebaikan semisalnya dengan sepuluh kali lipat sampai tujuhratus lebih. Kecuali berpuasa, dia itu untuk-Ku, Aku akan membalasnya. Seseorang meninggalkan minuman dan dorongan nafsunya, karena Aku juga, dan itu semua untuk-Ku, maka Aku akan membalasnya." (Ahmad; al-Turmudzi; al-Darimi; Malik).

Itulah lima kekuatan dan penjagaan yang akan diberikan Allah Swt kepada orang-orang yang menunaikan ibadah puasa dengan sebenar-benarnya. Jika semua bisa memelihara dan memperoleh kelima kekuatan tersebut maka kebaikan dunia dan kebaikan akhirat tidak hanya diperoleh penjagaan terhadap kehidupan pribadinya saja, tetapi terhadap kehidupan lainnya yang lebih luas lagi.

Monday, March 6, 2017

PEDOMAN HIDUP

Ibnu Abbas bercerita, pada suatu hari ketika ia berada di belakang Rasulullah, Rasulullah berkata padanya : "Hai nak, aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat (yang menjadi pedoman), yaitu jagalah dirimu terhadap ketentuan-ketentuan Allah, niscaya Allah akan menjaga engkau, peliharalah (peraturan-peraturan) Allah di mana saja engkau berada, niscaya dia akan memelihara engkau, apabila engkau memohon, maka bermohonlah kepada Allah, dan jika engkau minta pertolongan, minta tolonglah kepada-Nya. Ketahuilah bahwa walaupun seluruh manusia berkumpul untuk memberikan manfaat kepada engkau, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat itu, kecuali sekedar yang telah ditentukan Allah untuk engkau. Sebaliknya jika seluruh manusia bermufakat untuk mencelakakan engkau, mereka tidak akan berhasil menimpakan suatu bencana, kecuali bencana yang sudah ditentukan Allah di atas pundakmu. Pena sudah kering, buku sudah ditutup".
Dari perkataan Rasulullah tersebut, beliau mengajarkan beberapa pedoman hidup :
1. Menjaga diri terhadap ketentuan-ketentuan Allah
    Artinya menjaga diri dari berbagai keadaan. Rasulullah berpesan : "Ingatlah senantiasa kepada Allah diwaktu lapang, niscaya Allah akan mengingatmu ketika engkau sedang menghadapi masa yang sulit". Sejarah telah membuktikan bahwa para Rasul Allah senantiasa mendapatkan bimbingan dan pertolongan dari Allah, karena para Rasul itu senantiasa ingat dan taat kepada Allah, kapan dan di manapun mereka berada, serta dalam keadaan yang bagaimanapun.
2. Memelihara peraturan-peraturan Allah
    Artinya segala gerak langkah kita selalu berada dalam peraturan Allah, tidak berusaha melenceng, sebaliknya memiliki keinginan untuk tetap lurus, hal itu dikarenakan kita telah terikat dengan peraturan-peraturan Allah. Karena kita selalu memelihara peraturan-peraturan tersebut, niscaya Allah akan memelihara kita pula, sehingga kita tidak mudah terjerumus pada perbuatan maksiat.
3. Memohon dan meminta pertolongan hanya kepada Allah
    Manusia adalah makhluk yang lemah, kemampuannya sangatlah terbatas. Walaupun benar ia memiliki banyak kelebihan, namun dalam beberapa hal ia tidak mampu berdiri sendiri, ia memerlukan bantuan orang lain, dan ketika orang lain pun tidak berdaya untuk menolongnya dan mengeluarkannya dari kesulitan yang tengah dihadapinya, ia tentunya memerlukan tempat bergantung yang melebihi segalanya dan dalam situasi yang demikian itu tidak ada tempat untuk meminta pertolongan kecuali hanya pada Zat Yang Satu, Yang Tunggal, tempat mengembalikan segala persoalan dan tempat memohonkan segala permintaan, yang tiada lain adalah Allah SWT. Tuhan Pencifta dan Pemelihara alam semesta.

Sunday, March 5, 2017

HAKIKAT DOA DALAM SHALAT

Shalat adalah pengabdian kepada Allah SWT dengan ucapan dan perbuatan tertentu, dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Shalat sendiri bisa berarti pula doa, oleh sebab itu hampir seluruh bacaan dalam shalat adalah berisi doa-doa. Tempat-tempat berdoa dalam shalat misalnya :
1. Membaca doa iftitah
    Doa iftitah dibaca setelah takbiratul ihram.
    "Wahai Tuhanku, jauhkanlah antara aku dan antara kesalahan-kesalahanku, sebagaimana engkau jauhkan antara masyriq (tempat terbit matahari) dengan maghrib (tempat terbenam matahari). Wahai Tuhanku, bersihkanlah akan daku dari segala kesalahan-kesalahanku, sebagaimana orang membersihkan kain dari kecemaran. Wahai Tuhanku, basuhlah akan daku dari kesalahan-kesalahanku dengan air dengan salju dan dengan air batu dengan sebersih-bersihnya".
2. Membaca surat Al-Fatihah
     Al-Fatihah ditentukan untuk dibaca dalam shalat ketika berdiri, karena Al-Fatihah adalah doa yang jami' artinya doa yang diturunkan Allah kepada hamba-Nya. Doa ini mengajarkan kepada kita betapa kita memuji Allah, betapa kita menyanjung-Nya, betapa kita mengakui keesaan-Nya dalam menerima permohonan dan dalam memberi pertolongan, betapa kita berlindung kapada Allah dari jalan orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Al-Fatihah adalah sebaik-baiknya doa.                            
    Dalam membaca Al-Fatihah dalam shalat, haruslah diperhatikan; membaca surat tersebut dengan tertib, tidak sekali-kali dicepatkan, memperhatikan dengan sungguh-sungguh kebaikan-kebaikan yang terkandung di dalamnya, selalu berhenti di setiap akhir ayat dan tidak disambung-sambung. 
    Rasulullah selalu menghentikan bacaannya di tiap-tiap akhir ayat, hal itu dikarenakan : "Allah SWT berfirman : Aku membagi shalat itu (sebagai dialog) langsung antara Aku dan hamba-Ku. Ketika hamba-Ku mengucapkan "Alhamdulillahi rabbil'alamin" maka Aku menjawab "Aku sedang dipuja hamba-Ku", Ketika hamba-Ku membaca "Arrahmanirrahim" Aku menyahut "Aku disanjung oleh hamba-Ku", ketika hamba-Ku membaca "Malikiyaumiddin" Aku menjawab "Aku diagungkan oleh hamba-Ku", ketika hamba-ku membaca "Iyyaka na'budu waiyya kanasta'in" Aku menjawab "Sebagian untuk-Ku, sebagian untuk hamba-Ku", ketika hamba-Ku membaca "Ihdinashshirathal mustaqim, shirathalladzina an'amta 'alaihim, ghairil maghdu bi'alaihim waladldlollin" Aku menyahut "Aku akan memberi karunia kepada Hambaku ini dan terserahlah kepadanya apa yang ia minta". (Hadis Qudsi riwayat Ahmad-Muslim).
3. Ketika duduk diantara dua sujud
    "Ya Allah, ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku, cukupilah aku, berilah petunjuk dan beri rizki kepadaku".
4. Ketika duduk di Tahiyat akhir
    Setelah membaca Hamidum majid, kita memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal : "Ya Allah, aku berlindung kepada engkau (1) dari siksa jahannam, (2) dari siksa kubur, begitu pula (3) dari fitnah hidup dan fitnah mati, serta (4) dari jahatnya fitnah dajjal (pengembara yang dusta)".

Shalat itu menguatkan ketauhidan yang ada dalam jiwa dan menghaluskan budi pekerti kemanusiaan pada setiap manusia. Dengan banyak dzikir dan doa di dalamnya akan menjauhkan dari perbuatan keji dan munkar, sebagaimana Allah berfirman dalam Qs Al-Ankabut 45:
"Sesungguhnya, shalat itu mencegah manusia mengerjakan keji dan munkar".



Saturday, March 4, 2017

IMAN DAN AMAL SHALIH

Pada suatu hari, Rasulullah Saw berdialog dengan para sahabat. "Siapakah makhluk Allah yang paling menakjubkan imannya?"tanya beliau kepada para sahabat. "Malaikat ya Rasulullah,"jawab sahabat. "Bukan, bagaimana malaikat tidak beriman, padahal mereka pelaksana perintah Allah."kata Rasulullah. "Kalau begitu para Nabi ya Rasulullah,"sambung para sahabat. "Juga bukan, bagaimana para Nabi tidak beriman, padahal mereka menerima wahyu dari Allah,"kata Rasulullah. "Kalau begitu kami ini para sahabatmu ya Rasulullah,"sambung para sahabat kembali. "Bukan, bagaimana para sahabatku tidak beriman, padahal mereka menyaksikan mukjizat Nabi, hidup dengan Nabi dan melihat Nabi dengan mata kepala mereka sendiri,"ujar Rasulullah, kemudian melanjutkan. "Orang yang paling menakjubkan imannya adalah orang-orang yang datang sesudah kalian, mereka beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku, mereka membenarkanku tanpa pernah melihatku. Mereka menemukan tulisan (Al-Quran dan As-Sunnah) dan beriman kepadaku, mereka mengamalkan apa yang ada dalam tulisan itu, mereka membela seperti kalian membelaku, alangkah inginnya aku berjumpa dengan ikhwanku itu." (Hr Thabrani).
Yang dimaksud Rasulullah sebagai golongan orang yang paling menakjubkan imannya adalah orang yang hidup sepeninggal beliau, itu artinya kita adalah termasuk orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah tersebut.
Ketika Allah menyatakan penciftaan manusia dalam bentuk yang sebaik-sebainya (paling sempurna), kemudian Allah mengembalikan ke tempat yang paling rendah (neraka), maka yang selamat dari keadaan itu semua adalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih yang akan mendapatkan pahala tidak terputus. (At-Tin 4-6). Karena orang yang beriman dan beramal shalih adalah sebaik-baiknya makhluk Allah. (Al-Bayyinah 7).
Iman memegang peranan penting dalam kehidupan seseorang, iman akan memberikan arah yang benar dan membantu kita memahami makna terhadap berbagai peristiwa yang terjadi pada kita. Sedangkan amal shalih adalah perwujudan dari keimanan, baik itu yang berhubungan dengan Allah (hablumminallah) berupa ibadah-ibadah mahdhah (ritual) maupun yang berhubungan dengan manusia (hablumminannas) berupa ibadah-ibadah ghairu mahdhah (sosial). Seringkali orang memaknai amal shalih dengan memberi batasan pada ibadah-ibadah mahdhah saja, sehingga terjadi ketimpangan karena tidak seimbangnya dalam pelaksanaan kehidupan sehari-hari. Misalnya kehidupan seseorang yang dipenuhi dengan kebaikan amal shalih kepada Allah tetapi dia dibenci masyarakat karena kegemarannya berbuat kerusakan.
Pelaksanaan amal shalih harus senantiasa penuh keseimbangan antara ibadah ritual dan ibadah sosial, dan itu adalah perwujudan dari sebenar-benarnya  iman yang ada pada diri seseorang, sehingga menjadikannya sebagai makhluk Allah yang terbaik dan sempurna, ia akan berkuasa dan menempati tempat yang tinggi dan mulia di muka bumi, ia pun akan medapatkan kepastian dari janji Allah yang lainnya yaitu ia akan mendapatkan pahala yang tiada putusnya, diampuni dosa dan kesalahannya dan dimasukkan ke dalam surga-Nya.


Friday, March 3, 2017

RUKUN IMAN

Pengertian iman dapat ditinjau dari segi bahasa dan segi istilah. Iman menurut bahasa artinya percaya, sedangkan menurut istilah iman adalah meyakini dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan.
Rukun iman terdiri dari enam perkara :
1. Iman kepada Allah. 
    Artinya meyakini bahwa sesungguhnya Allah itu ada, Maha Esa, hidup tidak berpemulaan dan tidak berkesudahan, tidak ada yang menyamai, baik dalam Zat maupun sifat.
2. Iman kepada malaikat-malaikat Allah. 
    Artinya meyakini bahwa Allah telah menjadikan malaikat sebagai pesuruh-Nya. Mereka dimuliakan oleh Allah, tidak pernah membangkang dan menyeleweng terhadap perintah-perintah Allah. Mereka berbeda dengan manuisa, bukan laki-laki, bukan pula perempuan, tidak makan dan tidak minum, serta tidak dapat dilihat dengan mata dan diraba dengan tangan.
3. Iman kepada kitab-kitab Allah.
   Artinya meyakini bahwa Allah telah menurunkan kitab kepada para rasul-Nya. Kitab-kitab tersebut sebagai petunjuk bagi umat manusia dan sebagai pedoman hidup bagi orang-orang yang mengamalkannya. Dengan kitab-kitab ini para Rasul mengajarkan kepada umatnya kebenaran dan keesaan Tuhan.
4. Iman kepada rasul-rasul Allah
   Artinya meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat dari golongan mereka. Para rasul itu mengajak umatnya untuk beribadah kepada Allah semata. Para rasul itu semuanya jujur, pintar, mulia, berbakti, bertakwa, terpercaya, pemberi petunjuk dan diberi petunjuk. Para rasul menyampaikan risalah, sebaik-baiknya manusia, dan ia suci dari mempersekutukan Allah sejak lahir sampai meninggal dunia.
5. Iman kepada hari Akhir.
   Artinya meyakini bahwa pada suatu saat dunia ini akan binasa, semua manusia akan dibangkitkan kembali untuk diperhitungkan amal-amalnya. Kemudian manusia akan ditempatkan sesuai dengan amalan-amalannya. Jika amalannya baik, ia akan ditempatkan di surga dan jika amalannya buruk, ia akan ditempatkan di neraka.
6. Iman kepada qada dan qadar. 
    Artinya meyakini ketentuan-ketentuan Allah baik itu ketentuan-ketentuan Allah yang baik maupun yang buruk. Karena sesungguhnya Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.Qada sendiri mengandung arti ketentuan atau ketetapan Allah dari sejak masa azali (masa sebelum terbentuknya kehidupan) yang berhubungan dengan makhluk-Nya sesuai dengan iradah (kehendak)-Nya, meliputi baik dan buruk, hidup dan mati, dan seterusnya. Sedangkan Qadar mengandung arti perwujudan dari qada. Qadar disebut juga takdir Allah yang berlaku bagi semua makhluk hidup, baik yang telah, sedang, maupun yang akan terjadi.

Iman yang diterima oleh Allah :
1. Iman harus bersih dari syirik.
    Iman adalah mengenai masalah  kepercayaan yang berkaitan dengan Tuhan, yaitu Allah yang kita sembah. Di dalam mengimani Allah sebagai Tuhan kita, maka iman tidak boleh tercampuri sedikit pun oleh kepercayaan lain selain Allah, dalam artian menyekutukan Allah. Iman yang bersih dari perilaku-perilaku syirik adalah sebenar-benarnya iman, iman yang seperti inilah yang akan diterima oleh Allah.
2. Iman harus disertai dengan bukti nyata (amal). 
    Iman terletak di dalam hati, artinya keyakinan kepada Allah letaknya di dalam hati. Karena letak iman berada di dalam hati, maka iman bisa diketahui sebagai iman yang benar adalah jika iman tersebut dibuktikan dengan perbuatan dalam hal ini anggota badan. Karena sebagaimana pengertian iman yaitu diyakini dalam hati, diikrarkan dengan lisan dan diamalkan oleh perbuatan (anggota badan). Pembuktian iman akan melahirkan amal-amal nyata yang di sebut amal shalih.










Thursday, March 2, 2017

PERILAKU ORANG-ORANG MUNAFIK

Kemunafikan merupakan penyakit yang ada di dalam hati manusia. Sebagai penyakit hati, kemunafikan menyerang mental manusia, menyebabkan  batin dan watak menjadi tidak baik, sehingga terwujudkan dalam perilaku yang tidak baik pula. Di zaman Rasulullah, orang-orang munafik tampak terlihat dalam ucapan yang penuh kebohongan dan perbuatan-perbuatan yang menimbulkan kerusakan tatanan kehidupan.
Adapun perilaku orang-orang munafik tersebut adalah :
1. Membuat kerusakan.
   Orang-orang munafik gemar membuat kerusakan di muka bumi, namun mereka selalu mengingkari telah membuat kerusakan, sebaliknya mereka berkeyakinan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat kebaikan, hal itu dikarenakan mereka tak pernah menyadari apa yang mereka kerjakan.  Adapun kerusakan yang mereka buat adalah meliputi kekafiran dan perbuatan-perbutaan maksiat. Gambaran perilaku orang-orang munafik semacam ini di jelaskan Allah dalam Qs Al-Baqarah 204-205 : "Dan diantara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak. dan Allah tidak menyukai kebinasaan)".
2. Melecehkan orang beriman.
    Ketika orang-orang munafik diseru supaya beriman, mereka bukannya menyambut baik seruan itu tapi malah mengolok-olok kaum beriman sebagai orang-orang yang bodoh. Tanggapan negatif itu menggambarkan pandangan mereka tentang keimanan, bagi mereka keimanan itu merupakan kebodohan. Kebodohan yang mereka maksud bukanlah kebodohan intelektual, tapi kebodohan pilihan hidup. Orang-orang beriman memilih hidup dengan agama yang membuat mereka tidak dapat hidup dengan bebas menikmati semua kesenangan dunia, pilihan hidup semacam ini menurut orang-orang munafik merupakan kebodohan, karena kesenangan dunia itu menurut mereka adalah menyenangkan dan menghindari kesenangan tersebut merupakan kerugian dalam hidup yang hanya sekali dijalani di dunia ini. 
3. Bermuka dua
   Orang-orang munafik apabila bertemu dengan kaum beriman, mereka mengatakan beriman. Namun jika bertemu dengan teman-teman mereka sendiri, mereka mengatakan bahwa mereka tetap berada di pihak teman-temannya itu dan sebenarnya mereka menertawakan kaum beriman. Dalam hati mereka sebenarnya tersimpan niatan-niatan hati yang buruk.
Orang-orang munafik diumpamakan seperti orang yang menyalakan api, begitu menyala langsung mati kembali, sehingga mereka tetap berada dalam kegelapan. Dalam Al-Quran keimanan disebut sebagai cahaya yang menerangi hidup, sedangkan kekafiran di pandang sebagai kegelapan hidup di dunia, maka orang-orang munafik yang tidak beriman itu tidak hanya mengalami kegelapan di akhirat saja tapi juga di dunia. Al-Quran menyebut mereka sebagai 'tuli, bisu dan buta', mereka hidup seolah tidak memiliki mata dan telinga, sehingga mereka tidak dapat melihat dan mendengar apa-apa mengenai kehidupan yang lebih baik, akibatnya hidup mereka terus menerus berada dalam kegelapan, dalam artian tanpa harapan.
Umat Islam dituntun oleh Al Quran untuk bersikap hati-hati terhadap perilaku orang-orang munafik, meskipun penampilan dan ucapan mereka menawan. Sebagaimana termaktub dalam Qs Al-Munafiqun 4 : "Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?"

 
 

Monday, February 27, 2017

MENDIDIK HATI

Hati terdiri dalam dua pengertian, yang pertama adalah hati yang berbentuk lahir, berada dalam tubuh kita dan merupakan salah satu organ penting, namun ada perbedaan dalam penunjukan tempatnya hati ini, sebagian mengatakan hati itu adalah jantung, sebagian lagi mengatakan hati itu adalah lever. 
Rasulullah bersabda : "Ketahuilah, bahwa dalam tubuh manusia itu terdapat segumpal daging (mulghah). Bila segumpal daging itu bersih maka bersihlah seluruh tubuh. Dan bila segumpal daging itu rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah kalbu".
Pengertian yang kedua adalah hati yang tidak berbentuk kebendaan, ia berada di dalam tubuh manusia tetapi tidak kasat mata dan kita hanya bisa merasakannya saja, oleh karenanya hakikat dari hati atau kalbu yang semacam ini adalah ruhaniah. 
Hati atau kalbu cenderung berubah-rubah tergantung pada kekuatan jiwa yang menggerakkannya. Sementara itu jiwa memiliki dua sifat yang berkebalikan, yaitu sifat baik (muttaqa) dan sifat buruk( fuzara). Jika jiwa disucikan maka hati (kalbu)nya akan suci dan beruntunglah si empunya, sebaliknya jika jiwa dikotori maka kalbunya akan kotor dan merugilah dia.
Hati itu tempat tumbuh dan berseminya iman sebagaimana ditegaskan Allah dalam Qs Al-Mujadilah 22 : "Mereka adalah orang-orang yang Allah tuliskan keimanan dalam hati mereka". Iman memiliki arti meyakini dalam hati, mengikrarkan dengan lisan, melakukan dengan perbuatan. Namun iman sendiri sebagaimana hati, ia tidak bersifat tetap, ia seringkali berubah-ubah pula seiring dengan ketaatan dan keingkaran pelakunya. Jika kadar keimanan seseorang sedang naik, iman mejadikan tenang hatinya dan ia berpotensi beribadah dengan sebaik-baiknya. Namun ketika keimanan seseorang itu kadarnya turun, ia akan menderita penyakit malas dan akibatnya ia sanggup meninggalkan ibadah. Namun hati sesungguhnya selalu mengarah pada kebenaran, ia dengan nalurinya bersedia menerima segala pengetahuan, baik itu pengetahuan yang bersumber dari akal maupun agama, oleh sebab itu hati harus di didik agar selalu mengarah pada kebaikan sehingga iman pun memiliki ketetapan dan tidak selalu berubah-ubah. 
Mendidik hati berarti membuatnya melakukan pembebasan dari nafsu yang serba buruk dan membuatnya belajar meraih jiwa yang sarat dengan keutamaan. Mendidik hati berarti melakukan proses ruhaniah dengan selalu menyucikan jiwanya dan menjaganya sepanjang waktu agar tidak lagi terkotori.
Namun adakalanya manusia merasa telah mendidik hatinya dengan benar, ia berkeyakinan telah memiliki hati yang sempurna dari nafsu kotor, bahkan ia telah melaksanakan ibadah dengan sempurna pula, kelanjutan dari semua itu pada akhirnya membuatnya merasa paling ber-Islam, beriman dan bertakwa lebih daripada orang lain. Kedalaman ilmu yang dimilikinya membuatnya merasa paling benar, sehingga ia tidak membutuhkan ilmu-ilmu baru, hatinya tertutup untuk nasihat-nasihat, bahkan sebaliknya merasa tidak perlu dinasehati lagi karena ia adalah orang yang sudah tahu segalanya. Sikap-sikap semacam itulah yang sering menjebak manusia pada keislaman yang dangkal, dimana perkataan, hati dan perbuatan jadi tidak sejalan lagi. Namun seperti itulah manusia yang merasa paling berilmu, semakin tinggi klaim keilmuan-nya semakin dalam ia terjebak dalam ketakaburan. Ia tidak menyadari hatinya yang sudah terdidik itu perlahan-lahan menuju kebutaannya dan dipenuhi oleh nafsu kotor kembali.

Sunday, February 26, 2017

PERILAKU JUJUR


Perilaku jujur merupakan sifat dasar manusia yang sangat penting untuk dimiliki, sebegitu pentingnya hingga Allah menerangkannya dalam Al Quran tidak kurang dari 156 ayat. Hadis Rasul pun banyak yang mengupas sifat ini.
Al Quran menghubungkan perilaku jujur ini dengan keakhiratan secara langsung, hal ini menunjukkan bahwasanya sifat jujur sangat ditekankan dalam tampilan kehidupan setiap individu muslim. Pahalanya tidak sekedar manfaat keduniawian, melainkan pahala keakhiratan pula.
Allah berfirman dalam Qs Al-Maidah 119 : "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar berkat kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai ; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka juga ridha kepada-Nya. Itulah keberuntungan yang sangat besar".
Di dalam Al Quran, orang-orang yang selalu menghiasi hidupnya dengan perilaku jujur disebut dengan siddiq. Ada tiga nabi yang secara langsung disebut dengan gelar siddiq ini, yaitu Nabi Yusuf (QS Yusuf 41), Nabi Ibrahim (QS Maryam 41), dan Nabi Idris (Qs Maryam 56). Contoh dari ketiga nabi ini adalah sebagai penegaskan bahwa sifat para nabi adalah jujur.
Kejujuran akan menghasilkan banyak ketenteraman dikarenakan dalam kejujuran itu terkandung empati yaitu sebuah sifat yang dapat merasakan sesuatu perasaan (kesedihan) dari orang lain. Dengan hadirnya empati ini, sifat keakuan atau egois akan menghilang, digantikan oleh sifat kebersamaan dan tenggang rasa. Kemudian setiap orang menjadi lebih pandai untuk saling menahan diri, terutama terhadap sifat-sifat yang merusak dan merugikan. Apabila keadaan ini berhasil diciftakan, maka ketenteraman akan muncul ke permukaan dan menghiasi kehidupan dan dunia pun akan menjadi tempat yang menyenangkan.
Selain kata siddiq, adapula kata shadiq, keduanya sama-sama mengandung arti orang yang jujur, hanya yang menjadi perbedaannya adalah shadiq berlaku untuk orang jujur yang masih berada pada taraf rata rata, sedangkan siddiq berlaku untuk orang jujur yang bersifat total, dalam artian keseluruhan dan keutuhan hidupnya hanya dipersembahkan demi memenuhi hasrat kejujuran yang selalu dihayatinya. 
Di jaman Rasulullah, ada seorang sahabat yang berhasil mendapat derajat siddiq ini, yaitu Abu Bakar, hal ini dikarenakan Abu Bakar secara total membenarkan kenabian Muhammad walaupun keadaan saat itu sangat genting dan mengancam jiwanya
Rasulullah bersabda : "Hendaklah kamu berlaku jujur, karena kejujuran itu mengantarkan kepada kebajikan dan kebajikan mengantarkan ke surga. Demikianlah apabila seseorang hamba Allah membiasakan jujur dan senantiasa cenderung berlaku jujur, maka akhirnya akan dicatat di sisi Allah sebagai orang shiddiq." (Bukhari-Muslim). Dalam hadis ini Rasul menerangkan bahwa setiap individu muslim diharapkan berusaha keras menjadi orang-orang yang siddiq, bukan sekedar orang shadiq.

Saturday, February 25, 2017

RIYA

Riya atau dengan kata lain pamer mengandung arti memperlihatkan atau memamerkan segala bentuk perbuatan baik, baik itu berupa amal, ibadah atau prestasi kita kepada orang lain dengan tujuan untuk mendapat pujian dan penghargaan orang. 
Riya adalah perbuatan hati yang tercela, bahkan Riya dianggap sebagai syirik kecil. Begitu tercelanya hingga Allah melaknat orang-orang yang berbuat riya tersebut sebagaimana termaktub dalam Qs Al-Maun 4-6 : "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat Riya".
Suatu amal ibadah yang dilakukan dengan riya, niatnya ada dua, pertama ia melakukan ibadah untuk Allah dan kedua ia melakukan ibadah tersebut untuk selain Allah. Misalnya ketika seseorang mendirikan shalat dengan niat karena Allah, tetapi karena di sekelilingnya banyak orang, ia melakukan shalat itu agar mendapat pujian orang-orang pula. Atau ketika seseorang memberi infak kepada fakir miskin dengan niat karena Allah, tetapi disamping itu ia ingin pula di sebut dan di puji sebagai orang yang dermawan. Dari sisi inilah riya disebut sebagai syirik kecil, karena orang yang melakukannya telah menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam amal ibadah tersebut.
Semua perbuatan itu tergantung niat, sebagaimana hadis Rasul yang berbunyi : "Sesungguhnya semua perbuatan itu tergantung kepada niat, dan bagi seseorang itu apa yang diniatkan. Barang siapa hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya itu untuk dunia supaya ia mendapatkannya, maka hijrahnya itu sesuai dengan tujuan hijrahnya itu." (Bukhari-Muslim). 
Dan niat yang selurus-lurusnya adalah niat yang ikhlas yang artinya melakukan amal ibadah hanya semata-mata karena dan untuk Allah. Meninggalkan suatu amal karena orang itu adalah riya, melakukan suatu amal karena orang itu adalah syirik dan ikhlas adalah jika Allah menghindarkanmu dari keduanya. Ikhlas itu adalah rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Ia tidak diketahui malaikat sehingga ia menuliskannya, tidak diketahui setan sehingga ia merusakkannya, dan tidak diketahui hawa nafsu sehingga ia mengaturnya.

Thursday, February 23, 2017

SABAR

Kata sabar mengandung multi makna. Menurut bahasa Arab kata sabar (shabr) bermakna tabah hati dari segala cobaan dan ujian yang menimpa. Kata sabar dapat pula bermakna "menahan" artinya menahan diri dari perbuatan yang dilarang Allah, seperti perbuatan maksiat dan sebagainya. Sedangkan kata sabar menurut istilah adalah sikap tabah dan menerima dengan ikhlas segala cobaan yang menimpa, menahan diri dari sikap emosi dan putus asa.
Dari berbagai makna tersebut dapat ditegaskan bahwa sabar bersifat aktif dan dinamis. Dengan demikian sabar bukanlah seperti yang dipahami oleh sebagian masyarakat selama ini, yaitu menerima saja cobaan yang menimpa dirinya, tanpa ada keinginan mencari tahu mengenai apa yang menjadi penyebabnya dan tidak adanya usaha untuk melakukan perbaikan terhadap apa yang sedang menimpa.
Sabar sangat mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan kecuali untuk orang-orang tertentu. Allah berfirman dalam Qs Al-Baqarah 45: "Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk". 
Dan dalam Qs Al-baqarah 153: "Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar".
Penerapan sikap sabar dibagi menjadi lima hal:
1. Sabar dalam menjalankan segala perintah Allah
   Menjalankan perintah Allah atau menjalankan ibadah tidaklah ringan, terutama bagi mereka yang kurang memahami dan menghayati hakikat ibadah dan hakikat dirinya, juga bagi mereka yang masih sibuk dengan urusan dunia, tentu akan terasa berat. Dan tantangan bagi orang yang menjalankan perintah atau beribadah banyak halangannya, baik dari dalam dirinya maupun luar dirinya. Maka untuk menjalankan perintah dan ibadah yang baik dan ikhlas perlu kesabaran yang terus menerus.
2. Sabar dalam meninggalkan maksiat
  Kecenderungan manusia untuk berbuat maksiat adalah sangat kuat, sedangkan godaan-godaan untuk berbuat maksiat sangat kuat, maka tanpa kesabaran dalam berusaha meninggalkan maksiat tersebut, akan terasa sulit maksiat itu ditinggalkan.
3. Sabar dalam menghindari godaan dunia
   Dunia merupakan permainan yang penuh tipu daya, hiasannya sangat memesona sehingga manusia dapat terpengaruh olehnya. Menghindari godaan dunia artinya kita jangan sampai di perbudak dunia. Bersabarlah dalam menghadapi godaan dunia, kejarlah dunia dan kuasailah untuk sarana mengabdi kepada Allah.
4. Sabar dalam menghadapi musibah
   Musibah yang menimpa ada dua macam, pertama musibah yang datangnya dari Allah seperti kematian dan yang kedua adalah musibah yang disebabkan ulah manusia itu sendiri. Tetapi semuanya itu merupakan ujian untuk kualitas keimanan kita, oleh karena itu terimalah musibah itu dengan ikhlas dan penuh kesabaran  dan bertawakkal. Ciri-ciri orang yang sabar adalah bila ia ditimpa musibah ia akan mengucapan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". (Qs Al Baqarah 156).
5. Sabar dalam berjihad
   Jihad tidak selalu berarti pergi berperang, tetapi bisa berarti pula bersungguh-sungguh, yaitu bersungguh-sungguh dalam menghadapi musuh. Musuh di sini bisa berarti musuh yang berada dalam diri kita, seperti hawa nafsu jahat, sifat malas, kebodohan, dll. Juga musuh disini bisa berarti yang berada di luar diri kita seperti berbuat maksiat. Maka dibutuhkan kesabaran yang sepenuhnya dalam mengahadapi berbagai musuh tersebut karena musuh-musuh tersebut dapat mengikis keimanan kita dan menjauhkan kita dari peribadahan kepada Allah.
   

Wednesday, February 22, 2017

6 SIFAT SAHABAT NABI

Agama Islam adalah agama yang paling sempurna, Allah meletakkan kejayaan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat hanya pada agama ini, maka dari itu Allah telah membekali manusia kekuatan untuk mengamalkan agama yang paling sempurna ini dengan sempurna pula. Lalu bagaimana caranya agar kita dapat mengamalkan agama dengan sempurna? 
Di jaman Nabi, para sahabat beliau  telah mengamalkan agama secara sempurna, hal itu dikarenakan mereka memiliki 6 sifat:
1. Meyakini dua kalimat syahadat : Laa ilaaha illallah dan Muhammadurrasulullah
    Meyakini Laa ilaaha illallah berarti meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah, meyakini bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah. Kita harus mengosongkan hati dari keyakinan daripada selain Allah dan hanya memasukkan keagungan Allah semata dalam hati kita. Allah-lah tempat bergantung, tempat meminta pertolongan, tempat semua manusia kembali.
    Sedangkan meyakini Muhammadurrasulullah berarti meyakini Muhammad adalah Rasul Allah, dengan memiliki keyakinan tersebut maka kita akan mengikuti apa pun yang Rasul contohkan (Sunah Rasul). Sunah Rasul harus terus di dakwahkan dan dihidupkan sepanjang saat.
2. Menjalankan shalat khusyu
  Artinya melaksanakan shalat dengan sepenuh hati. Pikiran dan hati hanya ditujukan pada Allah, tidak memikirkan hal-hal lain.
3. Ilmu dan dzikir
   Ilmu adalah segala petunjuk yang datang dari Allah melalui Rasulullah. Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, maka Allah memberi kefahaman agama padanya. 
   Dzikir artinya mengingat Allah dengan segala keagungannya. Allah berfirman : "Ingatlah padaku, niscaya aku akan mengingatmu".
4. Memuliakan sesama muslim
   Memuliakan sesama muslim berarti menunaikan hak-hak sesama muslim, menghormatinya dan kemudian menjadi penolong mereka. Allah akan menolong hambaNya selama ia menolong sesamanya. Bahkan hanya untuk sekedar memberikan senyum, Allah menghitungnya sebagai sedekah. Rasul bersabda : "Siapa yang menutup aib saudaranya maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat".
5. Meluruskan niat, maksud dan tujuan
   Dalam artian membersihkan niat dalam setiap amalan semata-mata karena Allah. Dan Allah tidak akan menerima amalan kecuali amalan yang ikhlas. Allah juga tidak memandang harta dan rupa, Allah hanya memandang hati dan amal.
6. Dakwah dan Tabligh
  Dakwah berarti mengajak dan Tabligh berarti menyampaikan, artinya mengajak kepada manusia untuk percaya pada kebenaran semua ajaran Islam serta menyampaikan semua ilmu pengetahuan tentang agama kepada semua manusia. Karena tujuan hidup manusia di dunia ini adalah mengajak sesama manusia pada kebaikan  hidup di dunia maupun akhirat dan kebenaran. Oleh sebab itu memberitahukan kebenaran agama Islam adalah kewajiban semua muslim.

Sunday, February 19, 2017

AMAL SHALIH DAN BALASANNYA

Amal shalih atau amal kebaikan adalah segala bentuk perbuatan yang Allah ridha di dalamnya baik itu berkaitan dengan hubungan manusia terhadap Allah (hablumminnallah) maupun hubungan antar sesama manusia (habluminnanas). Amal shalih bisa dikatakan sebagai sebuah sarana yang akan memberi keuntungan kepada orang yang mengerjakannya, baik itu dalam kehidupan di dunia maupun dalam kehidupan di akhirat kelak. Dalam artian Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang mengerjakan amal shalih baik di dunia maupun di akhirat
Adapun balasan yang akan di dapat oleh orang-orang yang mengerjakan amal shalih, yaitu :
1. Kehidupan yang lebih baik.
   Qs An-Nahl 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki atau perempuan dalam keadaan dia beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang lebih baik  dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan".
2. Mendapat ampunan dan rizki yang baik. 
   Qs Al-Hajj 50 : "Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, bagi mereka ampunan dan rizki yang baik".
3. Memperoleh derajat yang tinggi. 
  Qs Thaha 75 : "Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi bersungguh-sungguh beramal shalih, maka mereka itulah akan memperoleh derajat yang tinggi".
4. Mencapai kemenangan.
   Qs Al-Qashash 67 : "Adapun orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka akan masuk ke dalam golongan orang-orang yang mencapai kemenangan".
5. Mendapat keadilan.
  Qs Fathir 7 : "Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih akan mendapat balasan (berupa) keadilan".
6. Dikeluarkan dari kegelapan.
  Qs Ath-Thalaq 11 : "Orang-orang beriman dan yang mengerjakan amal shalih akan dikeluarkan dari kegelapan kepada cahaya yang terang".
7. Mendapatkan rahmat Allah.
  Qs Al-Jasiyah 30 : "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka Allah memasukan mereka ke dalam Rahmat-Nya. Itulah keberuntungan yang nyata".
8. Tidak akan merasa takut.
  Qs Thaha 112 : "Barangsiapa mengerjakan amal shalih, sedang ia beriman, maka dia tidak akan takut diperlakukan sewenang-wenang dan dikurangi hak-haknya".
9. Mendapat ampunan dan pahala yang besar.
   Qs Maryam 96 : "Orang -orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih disediakan Tuhan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar".
10. Memperoleh nikmat yang tidak berbatas di surga.
    Qs Al-Mukmin 40 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan iman, mereka akan masuk ke dalam surga. Di sana mereka memperoleh nikmat yang tidak terbatas".

Thursday, February 16, 2017

PENYEBAB RUSAKNYA AKIDAH

Bangunan Islam berdiri di atas dua landasan yaitu akidah (tauhid) dan ibadah. Dengan kedua landasan itu, Islam berkembang membentuk kehidupan seorang muslim, baik dalam ke-diriannya maupun dalam kedudukannya sebagai mahkluk sosial, hal ini membuat umat Islam mengalami kemajuan maupun sebaliknya, kemunduran.
Kemunduran terjadi ketika umat Islam sudah berkurang kemampuannya menangkap makna yang tersimpan dalam kedua landasan itu dan akibatnya umat manusia mengalami kelambanan dan akhirnya tertinggal dari umat lain. Disamping itu  ketika umat Islam menodai dua landasan tersebut, terjadilah berbagai kerusakan di muka bumi ini, baik kerusakan yang bersifat lingkungan maupun jiwa dan raga. Keadaan ini terdapat pada Qs Asy-Syu'araa 151-152 :"Dan janganlah kamu turut urusan orang-orang yang melewati batas. (Yaitu) orang-orang yang membuat bencana di muka bumi dan tidak berbuat kebaikan".
Ada lima perkara yang dapat menjadi pemicu rusaknya akidah :
1. Keturunan. Saat ini keturunan masih sering dipergunakan orang untuk melegalkan hak-hak istimewa dan menyingkirkan orang-orang yang tidak dikehendaki. Kebanggaan terhadap keturunan juga memicu terjadinya rasialisme dan perbudakan seperti yang terjadi pada masyarakat Arab jahiliyah sebelum masa Islam. Dalam Islam tidak ada perbedaan antara suku yang satu dengan suku lainnya, bangsa yang satu dengan bangsa lainnya, karena derajat atau martabat seseorang di sisi Allah SWT bukan ditentukan oleh keturunan, suku atau lainnya, tetapi oleh takwanya.
2. Kekuasaan. Kekuasaan sering dipakai untuk menindas orang lain dan sering terjadi. Karena merasa mempunyai kekuasaan, orang sering bertindak sewenang-wenang terutama kepada rakyat kecil. Kekuasaan juga sering dipakai sebagai media untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Dalam Islam kekuasaan bukan untuk kesewenang-wenangan melainkan untuk melindungi orang yang lemah. Kelak pada hari kiamat, kekuasaan akan diminta pertanggung-jawabannya dari para pemegangnya.
3. Kekayaan. Selain keturunan dan kekuasaan, sejak dahulu hingga kini kekayaan selalu dipergunakan sebagai sarana untuk menekan orang lain. Kekayaan sering membuat orang lupa diri dan memandang hina orang yang tidak punya atau miskin. Ia mengira harta yang bertumpuk-tumpuk itu dapat membuatnya kekal, padahal harta bisa membawa kehancuran dirinya.
4. Kebodohan. Kebodohan cenderung membuat manusia tidak mampu menerima kebenaran dan keimanan, bahkan membuat manusia sanggup menanggalkan nilai-nilai kemanusiaannya, sehingga terjadilah pengikisan moral, anti kemanusiaan dan tenggelam dalam kesesatan.
5. Kemiskinan. Sedangkan kemiskinan cenderung mengantarkan manusia kepada kekufuran dan mengingkari keadilan Allah. Kemiskinan menyebabkan timbulnya iri hati si orang miskin kepada orang kaya. Kemiskinan kerap memunculkan masalah dan kesenjangan sosial seperti pencurian, keterbelakangan, penyakit, dll. Jalan keluar yang ditawarkan Islam untuk mengentaskan kemiskinan adalah dengan zakat, infak dan sedekah. Ketiga hal ini meskipun tidak menghapus secara mutlak kemiskinan tetapi setidaknya dapat menutup sebagian pintu-pintu kemiskinan.

Wednesday, February 15, 2017

MENJAGA LISAN

Lisan bisa diartikan sebagai ucapan atau pembicaraan. Nikmat lisan adalah senantiasa menjaga lisan dengan baik, karena lisan bagai pisau bermata dua, bisa membawa manusia pada kebaikan dan pada keburukan. Manusia jika bisa menjaga lisannya akan berdampak timbulnya kasih sayang dan saling hormat menghormati, tetapi sebaliknya jika Manusia tidak bisa menjaga lisannya akan timbul malapetaka dan kebencian. Dan sebaik-baiknya lisan adalah yang digunakan untuk mentaati Allah dengan jalan berzikir, berdoa, berdakwah dan beristighfar.
Ajaran Islam sangat mementingkan perasaan orang lain supaya jangan tersinggung oleh perkataan yang tidak baik. Dalam Al Quran, Allah telah memberi pengajaran tentang bagaimana menggunakan lisan dengan benar sehingga dapat membawa kepada kebaikan :
1. Perkataan yang pantas. Semua orang memiliki hak untuk mendapatkan penghormatan, dengan tidak memandang dia berasal dari kalangan mana. Berkata yang pantas adalah salah satu bentuk perhormatan tersebut, di dalamnya tidak mengandung penghinaan, tidak menyudutkan, tidak pula menyindir. Allah berfirman dalam Qs Al-Isra 28 : "Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas".
2. Perkataan harus memiliki manfaat bagi orang-orang yang mendengarkan, karena perkataan yang bermanfaat dapat memberikan pengetahuan, mencerahkan pemikiran, menunjukan jalan keluar untuk setiap masalah. Bahkan ketika sedang berhadapan dengan orang lemah dan kita tidak dapat membantunya secara materi, kita dapat membantunya dengan memberinya penghiburan lewat ucapan-ucapan kita.
3. Perkataan mulia lebih ditujukan kepada para orang tua kita, sebagaimana Allah berfirman dalam Qs Al-Isra 23 : "Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Allah, dan terhadap kedua orang tuamu hendaklah kamu berbakti dengan baik. Karena itu jangan kamu katakan pada mereka kata kasar ketika mereka berada bersamamu dikala usianya telah tua. Karenanya jangan membentak mereka, tetap berbicaralah terhadap keduanya dengan perkataan yang mulia".
4. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Tidak semua orang memiliki tingkat pendidikan yang sama, ada banyak di sekitar kita yang masih berada pada taraf yang tidak mengenyam pendidikan, orang-orang seperti ini tentunya harus dihadapi dengan ucapan-ucapan yang dapat mereka mengerti, agar tidak terjadi kesalah pahaman. 
5. Pembicaraan yang efektif, artinya pembicaraan memiliki kekuatan  yang dapat menyentuh hati dan pikiran sehingga maksud dari pembicaraan dapat tersampaikan pada yang mendengarnya dan diharapkan akan mengubah perilaku si pendengar dari buruk menjadi baik. 
6. Berbicara dengan lemah lembut. Allah berfirman dalam Qs Thaha 44 : "Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". Berdasarkan ayat tersebut Allah menganjurkan kepada kita untuk selalu berbicara dengan lemah lembut, berbicara yang jelas dengan wajah yang simfatik dengan mengurangi nada-nada suara yang tinggi. Dengan demikian orang yang mendengar akan mengerti dan mengikuti apa yang kita maksud.

Tuesday, February 14, 2017

MEMBUKA PINTU RIZKI ALLAH

Setiap manusia yang hidup di muka bumi ini sudah dipastikan menginginkan limpahan rizki dari Allah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia. Di satu sisi ada banyak orang yang dapat dengan mudah mendapatkan rizki Allah tersebut dan di sisi lainnya tak sedikit yang mengalami kesulitan.
Al Quran pada dasarnya telah memberi petunjuk pada manusia mengenai bagaimana caranya membuka pintu rizki Allah sehingga mereka dapat dengan mudah mendapatkan curahan karunia rizki tersebut. Petunjuk yang termaktub dalam Al Quran tersebut adalah :
.1. Bekerja keras.
Sesungguhnya rizki Allah ini sangat melimpah ruah, baik itu di langit mau pun di bumi. Bahkan di setiap jengkal langkah manusia sudah tersedia rizki Allah, tetapi Allah tidak akan menurunkan emas dan harta lainnya dari langit dan bumi begitu saja dan dengan tiba-tiba pula. Rizki tersebut harus di cari dengan usaha, dengan bekerja keras semaksimal mungkin, tidak bermalas-malasan dan tidak pula berpangku tangan. Allah berfirman dalam Qs Al-Jumuah 10 : "Maka apabila kamu telah selesai mengerjakan shalat (shalat Jum'at), hendaklah kamu bertebaran ke muka bumi dan carilah rizki Allah serta ingatlah terhadap Allah sebanyak-banyaknya agar kamu memperoleh keberuntungan". Dalam ayat tersebut Allah menghendaki agar umat manusia berusaha dan bekerja keras mendapatkan rizki dan bukan hanya semata-mata berdoa saja mengharap rizki jatuh dari langit. Dalam Qs  Hud 6, Allah berfirman : "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di muka bumi ini melainkan Allahlah yang memberi rizkinya. Dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata". Ayat tersebut menerangkan pada kita bahwa Allah itu amatlah besar kasih sayangnya terhadap setiap makhluknya dan sebagai wujud kasih sayang-Nya tersebut, Allah tidak menelantarkan makhluk-Nya dalam keadaan kelaparan, kecuali Allah telah menanggung rizkinya. 
2. Bertakwa kepada Allah, tidak sekali-kali menentang dan meninggalkan ajaran-Nya.
Tunduk dan taat mengikuti perintah Allah serta menjauhi larangannya adalah bentuk dan wujud sikap kerelaan dan keihklasan manusia untuk bersedia di atur oleh syariat ajaran agama Allah, sikap seperti itu akan menciftakan sebuah hubungan yang dekat dengan Allah, dan jika sudah demikian Allah memperhatikan manusia tersebut dan kemudian memudahkan segala urusan hidupnya di dunia ini. Sebagaimana termaktub dalam Qs At-Thalaq 2-3 : "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan memberikan kepadanya jalan keluar. Dan memberinya rizki yang tiada di sangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakinya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan tiap-tiap sesuatu."
3. Gemar bangun malam untuk melaksanakan shalat Tahajjud.
Waktu tengah malam atau sepertiga malam yang terakhir dianggap sebagai waktu yang mulia dan istimewa buat seorang hamba yang mau mengisi dengan aktivitas shalat Tahajjud, di karenakan pada waktu inilah Allah turun ke langit dunia untuk menyapa umat-Nya yang gemar bangun malam, lalu dia melakukan shalat Tahajjud dan bermunajat kepada-Nya, menyampaikan keluh kesah hidupnya dan bermohon memperoleh limpahan rizki dari-Nya. Rasulullah mengatakan : "Tuhan kita, Allah SWT tiap malam turun ke langit dunia sampai seperti malam yang terakhir. Dia berfirman : Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku (termasuk limpahan rizki) akan Aku beri. Dan barang siapa mohon ampun kepadaKu maka akan Aku ampuni." (HR Bukhari).

Monday, February 13, 2017

CIRI-CIRI ORANG BERTAKWA

Kata Takwa tidak kurang dari 288 kali disebutkan dalam Al Quran, di antaranya dalam Qs Ali Imran 133-135 :"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui".
Menurut surat tersebut, ada lima ciri orang bertakwa, yaitu menafkahkan harta kekayaannya, mengendalikan amarah, pemaaf, berbuat kebajikan atau ihsan dan mohon ampunan. 
1. Menafkahkan harta kekayaannya.
  Orang yang bertakwa akan menafkahkan harta kekayaan yang dikaruniakan Allah padanya, hal itu dilakukan sebagai perwujudan dari rasa syukur atas nikmat karunia tersebut. Dilakukan baik dalam keadaan memiliki kelebihan harta maupun dalam kekurangan. Orang yang bertakwa hatinya akan selalu tergerak untuk memberikan bantuan dan pertolongan kepada siapa pun yang memerlukan pertolongan. Orang yang bertakwa selalu menyadari bahwa harta yang dianugerahkan oleh Allah baik sedikit maupun banyak bukan hanya untuk disimpan atau untuk mencukupi kebutuhan dirinya saja, melainkan sebagiannya harus dimanfaatkan dan dibelanjakan di jalan Allah, karena harta kekayaan yang dimilikinya itu berasal dari pemberian Allah sehingga di dalamnya terdapat hak Allah dan juga tentunya hak masyarakat yang harus dipenuhi.
2. Mengendalikan marah.
   Orang yang bertakwa tidak akan cepat marah dalam menghadapi berbagai permasalahan. Dan kalaupun harus marah, adalah terhadap sesuatu yang dibenci Allah.
3. Pemaaf.
    Rasulullah mengajarkan agar kita bersedia memaafkan kesalahan orang lain tanpa sedikitpun merasa benci dan keinginan untuk membalas dendam.
4. Berbuat kebajikan atau ihsan.
   Meliputi ihsan kepada Allah, ihsan kepada sesama manusia dan ihsan kepada makhluk yang lain.  Ihsan kepada Allah dilakukan dengan cara beribadah dengan rasa ikhlas semata-mata karena dan untuk Allah, Rasulullah mengatakan ihsan kepada Allah adalah :" Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya. Kalaupun engkau tidak dapat melihatnya, maka Allah melihat engkau". Selanjutnya adalah ihsan kepada sesama manusia, artinya berbuat baik kepada sesama, dimulai dari ibu dan bapak kemudian kaum kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, tetangga paling dekat, tetangga jauh, musafir dan seterusnya. Adapun ihsan kepada makhluk lain adalah menyayangi dan menyantuni hewan, merawat tanaman, memelihara alam lalu memafaatkannya dengan sebaik-baiknya dan lain sebagainya.
5. Memohon ampunan Allah.
   Dalam hal ini adalah senantiasa beristighfar kepadaNya, dan tidak cukup dengan hanya ucapan istighfar, tetapi didahului dengan taubat, menyesali atas dosa-dosa yang telah diperbuat, bertekad tidak mengulangi dosa tersebut lalu mengiringinya dengan banyak berbuat amal kebajikan.

Kelima perbuatan yang merupakan ciri orang bertakwa tersebut tidaklah serta merta mudah dilakukan, perlu pelatihan setiap saat dan tentu saja kesabaran, tetapi seiring peningkatan ibadah, kelima perbuatan tersebut akan dengan mudah dilaksanakan, terutama karena di dalam jiwa kita telah tertanam kesadaran untuk melakukannya.