Thursday, February 13, 2025

SEBELUM PEMBAGIAN WARISAN

Sebelum harta warisan dibagikan, para ahli waris harus terlebih dahulu memenuhi kewajiban -kewajiban sebagai berikut;

1. Melaksanakan tajhijul-janazah atau perawatan jenazah, artinya melaksanakan keperluan bagi orang meninggal, seperti biaya perawatan di rumah sakit, pembelian kain kafan, pemakaman dan sebagainya.

2. Melunasi hutang-hutangnya jika ada, baik hutang kepada Allah seperti zakat atau nadzar yang belum ditunaikan, maupun hutang kepada sesama manusia.

3. Melaksanakan wasiat si mayit jika dia berwasiat, yaitu maksimal sepertiga dari hartanya.


Kemudian, perlu pula ditentukan harta yang menjadi milik si mayit yang akan diwariskan, yaitu meliputi;

1. Harta bawaan, yaitu harta yang diperoleh sebelum pernikahan dan harta yang diperoleh sebagai hadiah dan warisan.

2. Separuh harta bersama atau harta gono-gini, yaitu harta yang diperoleh oleh keduanya (suami-isteri) pada si mayit masih hidup, seperdua untuk suami (untuk diwariskan) dan seperdua untuk istri.

Setelah semua itu dilaksanakan dengan ketentuan, maka barulah harta warisan dibagikan sesuai syariat Islam.

Wednesday, February 12, 2025

WAKAF DAN HIBAH

 Pengertian Wakaf

Wakaf dalam bahasa Arab berarti habs (menahan), artinya menahan harta yang memberikan manfaat dijalan Allah. Sedangkan menurut istilah wakaf berarti "perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadah atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam".

Dalil yang menganjurkan untuk melakukan wakaf adalah QS Ali Imran ayat 92, yang artinya "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya."


Pengertian Hibah

Hibah berasal dari bahasa Arab yang berarti melewatkan atau menyalurkan, artinya telah disalurkan dari tangan orang yang memberi kepada tangan orang yang diberi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hibah adalah suatu pemberian yang bersifat sukarela (tidak ada sebab musababnya) tanpa ada kontra prestasi dari pihak penerima pemberian dan pemberian itu dilangsungkan pada saat si pemberi masih hidup.


Persamaan dan perbedaan antara Wakaf dan Hibah.

1. Dalam wakaf dan hibah terdapat orang yang memberikan hartanya yang disebut wakif dan wahib. Ada barang yang diberikan dan ada orang yang menerimanya.

2. Apabila seseorang menunjukkan kehendak dan berikrar dengan tegas akan mewakafkan hartanya, maka telah terjadi wakaf, tanpa diperlukan penerimaan (qabul). Sedangkan hibah adalah sebaliknya, harus ada perkataan dan perbuatan yang tegas dari pemberi hibah untuk menyerahkan barangnya (ijab) dan perlu adanya penerimaan harta yang dihibahkan (qabul).

3. Benda wakaf adalah segala benda, baik benda bergerak atau tidak bergerak yang memiliki daya tahan yang tidak hanya sekali pakai dan bernilai menurut ajaran Islam. Sedangkan benda hibah dapat berupa benda apa saja, baik yang sekali pakai maupun yang tahan lama. Tidak diperbolehkan mewakafkan ataupun menghibahkan barang yang terlarang untuk diperjualbelikan, seperti barang tanggungan (boreh), barang haram dan sejenisnya.

4. Benda wakaf hanya boleh diberikan kepada sekelompok orang yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak. Sedangkan hibah bisa diberikan kepada perorangan ataupun kelompok, dan dapat digunakan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan orang banyak.

5. Barang wakaf tidak bisa menjadi hak milik seseorang, sedangkan barang hibah bisa menjadi hak milik seseorang.

Monday, February 10, 2025

UMUR DAN WAKTU

Berbicara umur tidak bisa dilepaskan dari perubahan waktu. Kehidupan sebagai manusia terkait erat dan ditentukan pula oleh perjalanan waktu.

Sebagai manusia beriman, harus meyakini bahwa jatah waktu hidup merupakan salah satu rahasia Allah yang telah ditetapkan kepada setiap individu makhluk hidup. Setiap diri manusia tidak mengetahui berapa jatah waktu hidup yang Allah berikan kepadanya. Kewajiban setiap manusia adalah memperhatikan dan memanfaatkan waktu secermat dan sebaik mungkin.

Dalam Al-Qur'an, Allah sangat menekankan masalah waktu, bahkan dalam banyak surat, Allah bersumpah atas kata waktu, misalnya dalam surat Ad-Dhuha, Al-Lail, Al-Ashr dan lain sebagainya. Berbagai sumpah tersebut mengandung makna mengagungkan objek yang digunakan untuk bersumpah. 

Banyak ulama berpendapat bahwa sumpah Allah SWT dengan menyebut sebagian makhluknya membuktikan bahwa yang demikian itu termasuk tanda-tanda kekuasaanNya yang besar.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya umur, manusia akan mengalami kelemahan fisik dan sebagian diiringi dengan kelemahan mental atau pikun. Allah SWT telah memberi peringatan dalam QS An-Nahl ayat 70 yang artinya:

 "Allah menciptakan kalian dan kemudian mewafatkan kalian. Dan diantara kalian ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (ardzal al-umur) agar dia tidak mengetahui lagi suatu apapun yang telah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa".

Akhirnya dapat dikatakan bahwa manusia yang beruntung dalam menjalani perjalanan waktu yang berubah ini adalah mereka yang beriman kepada Allah, beramal shalih dengan dasar iman, saling berwasiat dan memberikan nasihat dengan kesabaran dan kebaikan.

Dan sesungguhnya umur yang berkualitas dan berkah adalah umur yang diisi dengan amal kebajikan dan amal shalih.


Sunday, July 2, 2017

BAHAYA SYIRIK

Islam disebut juga sebagai agama tauhid, karena Islam adalah agama yang datang untuk menegakkan tauhid dalam artian mengesakan Allah.
Allah menurunkan agama tauhid ini untuk mengangkat derajat dan martabat manusia ke tempat yang sangat tinggi dan mulia, dan Allah menurunkan agama tauhid ini untuk membebaskan manusia dari kerendahan dan kehinaan yang diakibatkan oleh perbuatan syirik. Sebagaimana firmanNya dalam QS An-Nur 55: "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di atara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan mengukuhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik".
Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa meninggal dunia (dalam keadaan) tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, niscaya akan masuk syurga. Dan barangsiapa meninggal dunia (dalam keadaan) berbuat syirik kepada Allah, niscaya akan masuk neraka." (HR Muslim).

Syirik atau menyekutukan Allah adalah sebesar-besar dosa yang harus dan wajib dijauhi karena perbuatan syirik dapat menyebabkan kerusakan dan merupakan bahaya besar, baik itu dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat. 
Di antara kerusakan dan bahaya akibat perbuatan syirik adalah:
Pertama: 
Syirik merendahkan keberadaan kemanusiaan, syirik menghinakan kemuliaan manusia, menurunkan derajat dan martabatnya, karena Allah telah menjadikan manusia sebagai hamba Allah di muka bumi ini dan memuliakannya.
Kedua: 
Syirik adalah sarang kurafat dan kebatilan. Dalam sebuah masyarakat yang akrab dengan perbuatan syirik, maka para dukun, ahli nujum, ahli sihir dan semacamnya menjadi laku keras, sebab mereka mengklaim bahwa dirinya mengetahui ilmu ghaib yang sesungguhnya tak seorangpun mengetahuinya kecuali Allah saja.
Ketiga: 
Syirik adalah kedhaliman yang paling besar, yaitu dhalim terhadap hakikat yang agung yaitu 'tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah'.
Keempat: 
Syirik sumber dari segala ketakutan dan kecemasan. Orang yang akalnya menerima berbagai macam khurafat dan mempercayai kebatilan,  maka kehidupannya selalu diliputi ketakutan, sebab dia menyandarkan dirinya pada banyak tuhan, padahal tuhan-tuhan itu lemah dan tak kuasa memberikan manfaat bahkan menolak bahaya atas dirinya. Allah berfirman dalam QS Ali Imran 151: "Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang yang kafir rasa takut disebabkan mereka merpersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak memberikan keterangan tentang itu. Tempat mereka kembali adalah neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tempat tinggal orang-orang yang dhalim".
Kelima:
Syirik membuat orang malas melakukan pekerjaan yang bermanfaat. Syirik mengajarkan kepada pengikutnya untuk mengandalkan para perantara, sehingga mereka meremehkan amal shalih. Sebaliknya mereka melakukan perbuatan dosa dengan keyakinan bahwa para perantara akan memberinya syafaat di sisi Allah. 
Keenam:
Syirik menyebabkan pelakunya kekal dalam neraka, sebagaimana Firman Allah dalam QS Al-Maidah 72: "Sesungguhnya, orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya adalah neraka, dan tidaklah ada bagi orang-orang dhalim itu seorang penolongpun".
Ketujuh:
Syirik memecah belah umat. Allah menjelaskannya dalam QS Ar-Rum 31-32: "Dan jangalah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka".

Saturday, July 1, 2017

AKIDAH

Akidah artinya keyakinan, sedangkan menurut syara. akidah artinya kepercayaan atau keimanan kepada hakikat-hakikat atau nilai-nilai yang mutlak yang tetap dan kekal, yang pasti dan hakiki, yang kudus dan suci seperti yang diwajibkan oleh syara yaitu beriman kepada Allah, rukun-rukun iman, rukun-rukun Islam dan perkara-perkara ghaib.
Pendidikan akidah merupakan dasar dan prioritas bagi pembinaan Islam pada diri seseorang. Ia merupakan inti dari amalan Islam seseorang. Seseorang yang tidak memiliki akidah menyebabkan amalannya tidak berarti apa-apa di hadapan Allah. Tanpa akidah Islam, amal seseorang akan kosong dan sia-sia belaka. Allah telah menggambarkan tentang hal ini dalam QS An-Nur 39: "Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi jika didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun...".
Dan dalam QS Al-Furqan 23: "Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu-debu berterbangan".

Ayat-ayat yang pertama-tama diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw di Makkah mengarah kepada pembinaan akidah. Dengan pembinaan akidah yang kuat dan jelas maka Nabi telah berhasil melahirkan para sahabat yang mempunyai daya tahan yang kuat dalam mempertahankan dan mengembangkan Islam ke seluruh dunia.
Kekuatan akidah yang sudah terpatri dalam dada berkemampuan memberikan kekuatan bagi seseorang untuk melawan kedholiman, ketidak adilan, kebiadaban, keserakahan dan melahirkan pribadi muslin yang memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.
Akidah Islam yang telah meresap ke dalam jiwa dan lubuk hati seseorang akan membentuk pribadi-pribadi muslim yang memiliki karakter:
1. Pribadi yang berkeyakinan kepada Allah Yang Maha Esa sehingga menggerakkan seluruh tingkah lakunya, percakapannya dan perbuatannya hanya untuk mencari keridhaan Allah.
2. Pribadi yang sholeh, ia selalu melakukan apa yang diperintahan Allah dan meninggalkan segala laranganNya.
3. Pribadi yang mempunyai akhlak cemerlang dan terpuji. Mengikis sifat-sifat yang buruk dan melahirkan manusia yang bertakwa dan segala sifat terpuji.
4. Pribadi yang senantiasa optimis dan yakin kepada diri sendiri untuk bekerja demi mencapai kejayaan di dunia, di samping tentunya tidak lupa mencari keridhaan Allah.
5. Pribadi yang teguh pendirian, mempunyai prinsip dan tidak mudah terpengaruh dengan keadaan yang mengancam nilai dan akhlak manusia.
6. Pribadi yang senantiasa senang berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran.
7. Pribadi yang tidak mudah putus asa atau hilang harapan, karena iman dalam hati telah memberi rasa tenang.
8. Pribadi yang sanggup berjihad di jalan Allah walaupun nyawa dan harta sebagai taruhannya.

Friday, June 30, 2017

AL-QURAN DAN NAMA-NAMANYA

Secara harfiah Al-Quran memiliki arti bacaan yang sempurna. Sedangkan dari segi bahasa Al-Quran memiliki arti bacaan atau yang dibaca, pengertian tersebut didasarkan pada penjelasan QS Al-Qiyamah ayat 16-18: "Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Quran) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya(16) Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya (17) Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu (18)".
Sementara itu menurut istilah Al-Quran memiliki arti firman Allah yang bersifat mukjizat dan diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, dengan perantaraan Malaikat Jibril, di tulis dalam mushaf-mushaf, diawali dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas, disampaikan kepada umat manusia secara mutawatir (berdasarkan riwayat para sahabat) dan apabila mempelajari dan membacanya merupakan suatu ibadah.

Nama-nama Al-Quran
Allah Swt telah memberikan nama-nama bagi Al-Quran dengan nama-nama yang sesuai dengan fungsi dan sifatnya. Nama-nama yang sesuai dengan fungsinya adalah:
1. Al-Quran
    Disebut sebagai Al-Quran karena dia memiliki fungsi sebagai petunjuk kepada jalan yang lurus, hal ini disebutkan dalam QS Al-Israa 9: "Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus..."
2. Al-Kitab
    Dinamakan Al-Kitab karena mengandung arti tulisan atau yang ditulis dalam arti lebih luas karena Al-Quran merupakan kalam Allah yang ditulis dalam lembaran-lembaran kemudian dikumpulkan menjadi satu mushaf Al-Quran (kitab) yang sampai secara mutawatir atau berurutan berdasarkan riwayat. Penamaan Al-Kitab termaktub dalam Qs Ad-Dukhan 1-2: "Ha Mim (1) Demi kitab (Al-Quran) yang jelas".
3. Al-Furqan,
    Al-Furqan artinya pembeda dalam artian Al-Quran dinamakan sebagai Al-Furqan adalah untuk membedakan antara hal-hal yang benar (haq) dan yang salah (batil). Penamaan Al-Furqan termaktub dalam QS Al-Furqan 1: "Maha Suci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur'an) kepada hambaNya (muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia)".
4. Az-Zikru
    Az-Zikru berarti peringatan. Al-Quran dinamakan Az-Zikru karena Al-Quran merupakan peringatan dari Allah kepada manusia mengenai akidah, ibadah dan muamalah. Penamaan Az-Zikru berdasakan QS Al-Hijr 9: "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Az-Zikru (Al-Quran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya".
e. At-Tanzil
    At-Tanzil artinya yang diturunkan. Al-Quran dinakan At-Tanzil karena merupakan kalam Allah yang ditunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantara Malaikat Jibril. Penamaan At-Tanzil disebutkan dalam QS Asy-Syu'a'ra 192: "Dan sesungguhnya At-Tanzil (Al-Quran) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam".

Di antara nama-nama tersebut yang selalu dipakai adalah Al-Quran dan Al-Kitab, karena sesuai keadaannya dimana Al-Quran dibaca secara lisan dan di tulis dalam kalam. Kedua nama tersebut memberikan isyarat bahwa Al-Quran wajib dipelihara dengan dua cara yaitu dibaca (dihafal) dan ditulis, sehingga dapat saling memperkuat. Karena hafalan belum dapat diakui kebenarannya apabila tidak cocok dengan rasm (tulisan) yang disepakati oleh para sahabat, yang dinukil secara mutawatir, begitu pula dengan tulisan belum dapat dibenarkan jika tidak cocok dengan hafalan yang disampaikan secara mutawatir.
Dengan hafalan dan tulisan itulah Al-Quran dapat dipelihara dengan baik, sehingga dapat terhindar dari perubahan dan penyimpangan, baik kata-katanya maupun huruf-hurufnya, sebagaimana telah menimpa kitab-kitab sebelumnya.

Adapun nama-nama Al-Quran yang sesuai dengan sifatnya disebutkan dalam ayat-ayat sebagai berikut:
1. Nur (cahaya)
    Disebutkan dalam QS An-Nisaa' 174: "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (Muhammad dengan mujizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Quran)".
2. Hudan (petunjuk), Syifa' (penyembuh), Rahmat dan Mau'izah (pelajaran)
    Disebutkan dalam QS Yunus  57: "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada dalam dada) dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman".
3. Mubarak (yang diberkahi)
    Disebutkan dalam QS Al-An'am 92: "Dan ini (Al-Quran) adalah Kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya...".
4. Mubin (yang menjelaskan)
    Disebutkan dalam QS Al-Maidah 15: "...sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan".
5. Busyro (berita gembira)
    Disebutkan dalam QS Al-Baqarah 97; "katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman".
6. Aziz (mulia)
    Disebutkan dalam QS  Fushshilat 41: "Sesungguhnya orang-orang yang mengikari Al-Quran ketika Al-Quran itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al-Quran itu kitab yang mulia".
7. Majid (mulia, pemurah)
    Disebutkan dalam QS Al-Buruuj 21: "Bahkan, yang didustakan mereka itu ialah Al-Quran yang mulia".
8. Basyir (pembawa berita gembira) dan Nadzir (pembawa peringatan) 
    Disebutkan dalam QS Fushshilat 3-4: "Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang menhetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan..".
    


Thursday, April 13, 2017

MENGGAPAI LAILATUL QADAR

Setelah ibadah puasa disyariatkan untuk meraih taqwa, Allah lalu melengkapi nikmatnya dengan menghadirkan Lailatul Qadar atau malam kemuliaan. Keutamaan lailatul qadar adalah betapa malam tersebut lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana termaktub dalam QS Al-Qadr 1-5:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan (1) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu malam (3) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan (4) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (6)".

Keutamaan lain Laitul qadar adalah segenap ibadah seperti shalat, membaca Al-Quran, dzikir dan amal sosial seperti shadaqah, zakat, infak dilipatkan gandakan pahalanya. Malam lailatul qadar hanya diberikan kepada umat Muhamaad Saw, sebagaimana sabda beliau: "Lailatul qadar untuk umatku, dan tidak memberikannya kepada umat-umat sebelumnya." (Anas bin Malik ra).

Berkenaan dengan ayat ke-4 Al-Qadr, Rasulullah bersabda bahwa pada saat terjadinya Lailatul qadar para malaikat turun ke bumi menghampiri hamba-hamba Allah yang sedang shalat qiyamulail dan melakukan dzikir, para malaikat mengucapkan salam pada mereka. Pada malam itu pintu-pintu langit dibuka, dan Allah menerima taubat dari hamba-Nya yang bertaubat.

Lailatul qadar terjadi pada malam Ramadhan, tepatnya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan dan pada malam-malam ganjil, sebagaimana sabda Rasulullah: "Carilah lailatul qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan." (HR Bukhari-Muslim-Baihaqy).

Mengenai tanda-tanda datangnya lailatul qadar, Rasulullah Saw menerangkan dalam hadisnya: "Pada saat terjadinya lailatul qadar itu, malam terasa sangat jernih, terang, tenang, cuaca sejuk tidak terasa panas dan juga tidak dingin. Dan pada pagi hari matahari terbit dengan jernih terang benderang tanpa tertutup sesuatu awan." (Muslim-Ahmad-Abu Daud-Tarmidzi).

Setiap muslim pasti bisa menggapai Lailatul qadar, caranya adalah sejak awal Ramadhan harus lebih bersungguh-sungguh dalam melaksanakan semua ibadah, hindari perbuatan-perbuiatan yang akan mengurangi nilai puasa seperti bertengkar, bergibah, berbohong, dll. Setiap muslim harus melaksanakan qiyamulail tanpa putus dan mengkhatamkan Al-quran. Selanjutnya memperbanyak doa, memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah. Sebagian dianjurkan untuk melakukan iti'kaf.

Wednesday, April 12, 2017

IHSAN

Agama islam adalah agama yang lengkap dan sempurna, secara garis besar ajarannya meliputi Iman, Islam dan Ihsan. Pokok-pokok tentang iman tercantum pada rukun iman yang enam.  Sedangkan Islam adalah pokok ajaran yang menerangkan peraturan-peraturan Islam atau syariat. Pokok-pokok ajaran tersebut tercantum pada rukun islam yang lima dan secara luas tercantum pada Al-Quran dan Al-Hadis.
Ihsan secara harfiyah berarti baik, secara luas ihsan artinya suatu rangkaian perilaku seseorang yang didasarkan kepada hukum atau aturan Allah Swt dan rasul-Nya. Ihsan bisa juga diartikan sebagai ajaran yang berhubungan dengan akhlak atau budi pekerti.
Ruang lingkup Ihsan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Ihsan kepada Allah Swt
    Berbuat baik atau ihsan kepada Allah yakni beribadah kepada Allah dengan berdasarkan kepada aturan-aturan yang terdapat pada Al-Quran dan hadis. Pengertian dan maksud ihsan kepada Allah diterangkan Rasulullah dalam hadis beliau: "Ihsan itu ialah bahwasanya engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Maka jika engkau tidak bisa melihat-Nya sesungguhnya Allah melihatmu." (HR Bukhari).
2. Ihsan kepada sesama manusia
    Ihsan kepada manusia maksudnya berbuat baik kepada sesama manusia, yaitu dengan sikap, ucapan dan perbuatan yang baik. Berbuat baik kepada sesama manusia diperintah oleh Allah, sebagaimana firman Allah dalam QS An-Nisa 36: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua, ibu, bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah Swt tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri".
    Seorang mukmin yang sempurna adalah yang mencintai sesamanya seperti halnya mencintai terhadap dirinya sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah: "Tidaklah beriman di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri." (HR Bukhari-Muslim).
3. Ihsan kepada makhluk lainnya
    Selain berbuat baik kepada Allah dan sesama manusia, islam mengajarkan pula untuk berbuat baik kepada alam sekitar. Ihsan kepada alam sekitar artinya memperlakukan alam sekitar sesuai dengan norma-norma atau kaidah-kaidah ajaran islam. Memperlakukan alam sekitar harus sesuai dengan kewajaran. Tumbuh-tumbuhan, hewan dan makhluk lainnya dipelihara dan kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan umat manusia.
    Allah berfirman dalam QS Yaasin 33-35: "Dan suatu tanda kekuasaan Allah yang Maha Besar bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Supaya mereka dapat makan dari buahnya dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur".

Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Quran dan Al-Hadis yang menerangkan tentang ihsan. Puncak dari pada ihsan adalah tercapainya kecintaan kepada Allah, kepada manusia maupun kepada alam sekitar. Oleh sebab itu teruslah berbuat baik atau ihsan, karena tidak ada batasan untuk itu selama manusia masih memiliki napas kehidupan.

Tuesday, April 11, 2017

ISTIQAMAH

Istiqamah artinya kosisten atau dengan arti yang lebih luas yaitu tetap berpegang teguh dalam ketaatan dan senantiasa menjauhi yang dilarang, termasuk didalamnya adalah berpegang teguh kepada agama sesuai petunjuk Allah, menunaikan kewajiban-kewajiban agama dan menjauhi segala larangannya, menjaga amal shalih yang sudah dikerjakan dan berusaha meningkatkannya.
Allah berfirman dalam QS Hud 112: "Sesungguhnya orang-orang yang berkata,'Tuhan kami adalah Allah' kemudian beristiqamah, maka turunlah kepada mereka malaikat-malaikat".
Unsur-unsur istiqamah mencakup:
1. Istiqamah iman
    Seorang muslim harus selalu menjaga imannya agar tidak terjerumus dalam kekufuran atau kemurtadan, untuk itu ia harus menjaga komitmennya terhadap ajaran Islam dan selalu memeliharanya, caranya adalah dengan melaksanakan ajaran islam sepanjang hidupnya, karena hidayah iman islam itu bisa hilang manakala tidak dijaga dengan baik.
    Iman Al-Ghazali mengatakan dalam bukunya 'Bidayatul Hidayah' bahwa: "Cara merawat hidayah yakni dengan selalu menunaikan ibadah secara utuh dan menyeluruh sepanjang hayat".

2. Istiqamah hati
    Yang menentukan lurusnya iman seseorang adalah hatinya. Karena hati adalah 'alat pengendali' yang akan menggerakkan seluruh amal dan aktivitas. Rasulullah Saw bersabda: "Ketahuilah bahwa di dalam tubuhmu ada segumpal daging, jika ia baik maka baik seluruh tubuhnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati". Oleh sebab itu setiap muslim harus menjaga hatinya agar tetap bersih dan cemerlang hingga mampu memberikan kekuatan yang handal untuk beramal shalih. Karena hati yang bersih tidak akan pernah puas untuk selalu beramal shalih sebanyak-banyaknya, sementara hati yang buta adalah sebaliknya, ia tidak akan pernah merasa puas dengan kemaksian yang diperbuatnya.

3. Istiqamah lisan
    Lisan seseorang merupakan cerminan dari hatinya, artinya bila hati dan iman seseorang terkondisikan dengan baik, terbina dan terpelihara, terutama dalam ibadah, niscaya akan melahirkan tutur kata yang baik, dan lembut. Rasulullah bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR Bukhari, Muslim).

Orang muslim tentunya harus selalu menjaga sikap istiqamahnya dan dalam segala aspek kehidupan. Rasulullah Saw bersabda: "Tidak akan lurus iman seseorang sebelum lurus hatinya, dan tidak akan lurus hati seseorang sebelum lurus lisannya".

    

Monday, April 10, 2017

IMAN KEPADA HARI AKHIR

Hari akhir adalah hari dimana dunia menemui kehancurannya. Manusia pada saat itu tidak melakukan kegiatan apa-apa karena mereka sibuk mencari penyelamatan, tetapi mereka tidak mendapatkan perlindungan kecuali pembuktian amal perbuatan yang telah dilakukan di dunia.
Beriman kepada hari akhir adalah percaya akan adanya kehidupan yang kekal setelah kehidupan di dunia ini. Iman kepada hari akhir merupakan pokok kepercayaan yang harus diyakini oleh setiap muslim, jadi orang yang tidak percaya kepada hari akhir, dia tidak termasuk golongan orang yang beriman.
Peristiwa terjadinya hari akhir banyak disebutkan di dalam Al-Quran, diantaranya:
1. Surat Al-Zalzalah 1-6
    "Apabila bumi diguncangkan dengan goncangan yang dasyat (1) Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandungnya) (2) Dan manusia bertanya; mengapa bumi (jadi begini)? (3) Pada hari itu bumi menceritakan beritanya (4) Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya (5) Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka (6).
Allah menjelaskan bahwa tanda-tanda kiamat dapat diketahui, akan tetapi kapan datangnya hari tersebut tak seorangpun mengetahuinya, bahkan Rasulullah sendiri pun tidak mengetahui secara pasti tentang hal itu.
Allah berfirman dalam Qs Al-A'raf 187:
    "Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: Bilakah terjadinya? Katakanlah: Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Tuhanku. tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba".

2. Surat Al-Qariah 1-5
    "Hari kiamat (1) Apakah hari kiamat itu? (2) Tahukah kamu apakah hari kiamat itu? (3) Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran (4) Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan (5)".
Peristiwa hancurnya alam dan seisinya diawali dengan tiupan terompet oleh malaikat Isrofil atas perintah Allah. Pada saat itu hancurlah dunia dengan segala isinya termasuk manusia.
Allah berfirman dalam Qs Az-Zumar 68 :
   "Dan dihembuskanlah terompet, maka robohlah apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi kecuali yang dikehendaki oleh Allah".

Kerusakan dan kemusnahan seluruh alam dengan segala isinya  bukan sesuatu yang mustahil dan bukan pula sesuatu yang menyimpang dari akal pikiran yang sehat. Allah telah menetapkan bahwa segala yang maujud (ada) pasti akan mengalami kerusakan dan kehancuran setelah melewati perputaran masa tertentu, kecuali Allah SWT sendiri. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Qashas 88: "Segala sesuatu pasti akan rusak dan musnah kecuali Allah SWT".

Kehidupan manusia pada waktu di dunia akan mendapat balasan, bagi mereka yang berbuat kebaikan dan suka beramal saleh akan ditempatkan di surga dan bagi mereka yang suka mengerjakan perbuatan buruk dan selalu menuju dosa akan mendapatkan balasan dari Allah dengan siksaan di dalam neraka.

Sebelum mereka menempati tempat yang sesuai dengan amal perbuatannya, lebih dahulu amal mereka dihisab, dan di sanalah pengadilan yang sejati. Allah mengadili mereka sesuai dengan catatan yang dibuat malaikat Raqib dan Atid, kemudian barulah menjatuhkan keputusan sesuai dengan amal perbuatan ketika di dunia. Pada hari itu tak seorang pun yang dapat membela kecuali amal yang telah dikerjakan sewaktu di dunia, semua anggota badan menjadi saksi atas amal perbuatannya. Manusia tidak dapat berdusta atau berbohong. Pada hari itu banyak orang yang menyesal karena mereka tidak banyak berbuat kebajikan ketika hidup di dunia.

Sunday, April 9, 2017

TENTANG IBADAH

Ibadah secara bahasa berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut istilah ibadah memiliki banyak arti, tetapi kandungan makna dan maksudnya tetap satu, seperti misalnya :
1. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul.
2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan kecintaan yang paling tinggi.
3. Ibadah adalah cakupan seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang lahir maupun yang batin.

Ibadah terbagi menjadi 3 bagian, yaitu :
1. Ibadah hati
    Ibadah hati yaitu ibadah yang dilakukan hati dengan tujuan karena Allah. Aktivitas ibadah ini tidak terlihat secara jelas, namun akan terlihat ketika seorang muslim sedang menghadapi suatu urusan. Ibadah hati dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja sesuai kebutuhan dan keinginan.
    Yang termasuk ibadah hati diantaranya tawakal atau berserah diri; sabar atau siap menjalani ketentuan Allah; ikhlas atau berbuat sesuatu karena Allah semata; al-khauf atau rasa takut kepada Allah sehingga menghindarkan diri dari perbuatan maksiat; dan raja' atau berharap hanya kepada Allah.
2. Ibadah lisan
    Ibadah lisan yaitu ibadah yang dilakukan secara lisan berupa zikir untuk mengingat Allah. Contohnya membaca tahmid atau alhamdulillah; takbir atau allahu Akbar; tahlil atau mengucapkan kalimah la ilaha ilallah; membaca doa; dan yang sejenisnya. Selain itu, mengajak orang lain untuk ber-amar maruf nahi munkar atau berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran merupakan bagian dari ibadah lisan.
   Allah berfirman dalam QS Fussilat 33: "Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata,'sungguh aku termasuk orang- orang muslim (yang berserah diri)?')".
Firman Allah tersebut menegaskan bahwa sebaik-baik perkataan adalah isi perkataan tersebut adalah  menyeru untuk taat kepada Allah, memotivasi orang lain melakukan kebaikan dan mendorong manusia untuk meninggalkan perbuatan maksiat.
3. Ibadah badan
    Ibadah badan yaitu menjadikan seluruh anggota badan sebagai sarana ibadah kepada Allah. Contohnya salat, zakat, haji dan jihad.

Ibadah yang diterima oleh Allah adalah ibadah yang hanya dilandasi oleh niat yang tulus ikhlas karena Allah, oleh karena itu niat yang ikhlas adalah syarat utama diterimanya ibadah. Niat yang ikhlas merupakan dasar segala amal ibadah.

Saturday, April 8, 2017

IBADAH SHALAT

Shalat adalah kewajiban yang harus dijalankan oleh seluruh umat Islam dimana saja dia berada, dan dalam keadaan apapun. Kedudukan shalat dalam Islam sangat penting sekali, seperti disabdakan Rasulullah Saw dalam sebuah hadisnya:
"Shalat adalah tiang agama, maka barang siapa yang menegakkannya, berarti menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkannya, berarti meruntuhkan agama". (HR Baihaqi).
Baik buruknya amal shalat seseorang akan mempengaruhi amal ibadahnya yang lain. Dan tanpa shalat, semua amal ibadah yang lainnya itu tidak akan ada nilainya. Begitu pentingnya shalat, sehingga di hari kiamat nanti yang pertama sekali dihisab adalah amal shalat, sebagaimana sabda Rasulullah:
"Yang pertama kali dihisab dari amalan-amalan seseorang pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya, dan jika shalatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalnya." (HR Tabrani).
Sasaran utama dari shalat adalah agar orang yang melakukannya selalu ingat kepada Allah yang menciptakannya dan dengan mengingat Allah setiap waktu akan menjadikan manusia selalu waspada, senantiasa menghindarkan diri dan perbuatan keji dan tercela, sehingga terlepas dari pelanggaran-pelanggaran yang akan menjerumuskan ke lembah penderitaan tanpa batas di neraka.
Shalat yang wajib dikerjakan ialah shalat yang lima waktu dalam sehari semalam. Shalat tersebut harus dikerjakan secara terus menerus dan sesuai dengan waktunya. Allah menegaskannya dalam Qs Al-Isra' 78:
"Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula) shalat subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan malaikat".
Maksud dari ayat tersebut adalah setiap muslim wajib mendirikan shalat lima waktu yang terdiri atas shalat dhuhur, ashar, maghrib, isya' dan subuh. Semuanya harus dikerjakan lengkap dengan syarat dan rukunnya sesuai dengan yang diperintahkan Allah SWT.

Friday, April 7, 2017

HIKMAH SHALAT

Agama merupakan rahmat bagi seluruh alam. Apa yang diperintahkan dalam agama adalah hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi penganutnya dan apa yang dilarang adalah hal-hal yang tidak baik dan membawa akibat buruk. Shalat adalah salah satu yang diwajibkan bagi setiap muslim, oleh karena itu shalat dapat dipastikan bermanfaat bagi yang melakukannya.
Banyak hikmah yang didapat dari shalat dan dampaknya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Hikmah shalat tersebut adalah:
1. Membiasakan hidup bersih dan sehat
    Allah berfirman dalam QS Al-Maidah 6: "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku-siku dan usaplah kepalamu dan basuhlah kakimu dengan dua mata kaki".
    Maksud dari ayat tersebut adalah bahwa orang yang selalu membasuh muka, tangan dan kakinya setiap akan mengerjakan shalat maka akan terjaga dari hadast dan najis serta raut mukanya akan tampak bersih dan segar, ini menandakan Islam itu senang kepada yang bersih.
    Sebagaimana diketahui bahwa setiap orang yang akan mengerjakan shalat terlebih dahulu harus bersih dan suci dari hadast dan najis. Begitu pula tempat dan pakaian yang digunakan untuk shalat.
Dengan demikian jelas sudah bahwa shalat dapat melatih seseorang agar cinta pada kebersihan. Orang yang suka membiasakan hidup bersih akan terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh kotoran yang melekat pada badan.
2. Shalat mendidik disiplin
    Shalat lima waktu mendidik dan membiasakan orang untuk berdisiplin dalam waktu. Ketaatan dalam melaksanakan shalat pada waktunya akan menumbuhkan kebiasaan untuk melaksanakan segala sesuatunya dengan tepat waktu, dan kebiasaan disiplin ini akan menjalar ke seluruh sikap hidup kesehariannya.
3. Shalat mendidik hidup sabar
    Shalat dapat mendidik dan melatih orang menjadi sabar, tabah dan tenang dalam menghadapi cobaan hidup. Bagi yang sungguh-sungguh dalam melaksanakan shalat, akan menjadi tegar dan tak gampang putus asa dalam menghadapi segala kesusahan dan kesulitan yang menimpa dirinya.
    Allah berfirman dalam QS Al-Maarij 19-23: "Sesungguhnya manusia diciftakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpakan kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya".
4. Shalat membentuk persaudaraan seagama
    Shalat berjamaah di masjid lebih tinggi nilainya daripada shalat sendiri atau shalat di rumah. Dengan berkumpul dan melaksanakan ibadah secara bersama-sama akan memupuk rasa persaudaraan sesama muslim. Rasa persaudaraan ini akan semakin terjalin dengan erat kalau selalu dibina dengan selalu melakukan shalat berjamaah di masjid.
   Allah berfirman dalam QS Al-Hujurat 10: "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat".
5. Shalat akan menghindarkan manusia dari perbuatan keji dan mungkar
    Apabila shalat dilaksanakan dengan hati yang ikhlas, dengan sikap tunduk dan patuh, maka akan mendorong pelakunya untuk membentengi diri dari perbuatan buruk.
    Allah berfirman dalam QS Al-Ankabut 45: "Sesungguhnya shalat dapat mencegah (diri) dari perbuatan keji dan mungkar".

Nabi Muhammad Saw memberikan gambaran kepada orang-orang yang mengerjakan shalat lengkap dengan syarat dan rukunnya semata-mata hanya karena Allah, ada tiga sasaran yang akan diperoleh bagi orang yang mengerjakan shalat yaitu; timbulnya keikhlasan dan kesabaran, bertambahnya takwa kepada Allah dan selalu ingat kepada Allah.
    

Thursday, April 6, 2017

PERSAUDARAAN ISLAM

Ketika Rasulullah Saw sudah berada di kota Madinah dan membangun suatu negara Islam pertama, maka mulailah beliau mengatur masyarakat berdasarkan pada undang-undang Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnah Rasul. Masyarakat ditata atas dasar persamaan hak dan kewajiban tanpa memandang sosial ekonomi tapi didasarkan pada ketakwaan kepada Allah. Tiada perbedaan manusia di hadapan Allah Swt, yang paling mulia di sisi Allah hanyalah yang paling takwa.
Ada dua kelompok masyarakat muslim yang tinggal di kota Madinah pada saat itu, yaitu kaum Muhajirin (berasal dari Makkah) dan kaum Anshar (penduduk asli Madinah), Rasulullah kemudian menjadikan kedua kelompok muslim tersebut bersaudara, saudara seagama, bahkan lebih dari itu mereka dijadikan seperti saudara kandung.
Persaudaraan Islam telah dikokohkan dengan firman Allah dalam QS Al-Hujurat 10 : "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, oleh sebab itu perdamaikanlah (perbaiki hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah kepada Allah, mudah-mudahan kamu mendapat rahmat".
Sesama Muslim, baik laki-laki maupun perempuan dilarang saling menghinakan, saling mencela, saling memberi gelar (julukan) yang tidak baik. Hal ini ditegaskan lagi pada ayat 11 : "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok); dan janganlah pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar(julukan) yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim".
Dikaitkan dengan keimanan seseorang, Rasulullah menegaskan dalam sabdanya : "Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai (mengasihi) saudaranya, sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri." (HR Bukhari).
Hadis tersebut menjelaskan bahwa Islam mengajarkan persaudaraan Islam diukur dengan keimanan seseorang. Iman seseorang tidak sempurna sebelum seorang Islam belum mengasihi saudaranya seperti dia mengasihi dirinya sendiri bahkan lebih dari itu. Yang dimaksud saudara di sini tidak terbatas pada saudara karena hubungan darah saja melainkan lebih luas lagi, bisa saudara sebangsa, saudara seagama dan bahkan sesama manusia.
Banyak contoh teladan yang diberikan Rasulullah Saw, juga para sahabat beliau maupun para tabi'in tentang pengamalan hadis tersebut, yaitu mengasihi saudaranya seperti mengasihi dirinya sendiri, terutama hal ini terjadi di saat keadaan gawat dan darurat, di masa peperangan atau bencana alam lainnya. Di saat seperti itulah perlu saling bahu membahu dan tolong menolong dalam menyelamatkan jiwa raga, harta benda dan melindungi setiap rumah tangga dari bahaya kemusnahan.


Wednesday, April 5, 2017

KEUTAMAAN SHALAT SUBUH

Shalat Subuh mempunyai waktu yang sangat pendek, yaitu sejak terbit fajar sampai terbitnya matahari. Ada sebuah penelitian yang menyatakan bahwa shalat Subuh dapat menjadi terapi dari berbagai penyakit, baik penyakit jiwa maupun raga. Shalat Subuh dapat menghilangkan sifat malas, menyegarkan badan dan melancarkan darah setelah tidur. Di samping itu udara yang segar dan belum tercemari pada waktu Subuh akan menyegarkan jantung, menguatkanparu-paru, meperbaharui sel-sel yang mati dan memperbaiki kinerja organ-organ tubuh bagi pelaku shalat Subuh. Kemudian berjalan kaki menuju masjid untuk menunaikan shalat Subuh dapat meningkatkan daya tahan tubuh, menguatkan otot-otot badan, menambahkan kelenturan sendi-sendi dan melonggarkan urat badi. Berjalan kaki ke masjid juga dapat menghidupkan sel-sel, memperbaiki kinerja jantung serta meningkatkan kemampuan otak dan daya ingat.
Zaman dahulu orang Islam malas berjamaah shalat Isya dan Subuh dikarenakan gelapnya malam, tetapi sekarang orang malas karena melimpah ruahnya fasilitas, salah satunya acara tv yang membuat orang menjadi tidak mampu bahkan tidak mau melangkahkan kakinya ke masjid. Acara tv membuat orang tidur larut malam sehingga porsi untuk tidur menjadi berkurang, yang akhirnya membuat orang Islam banyak yang meningggalkan shalat Subuh.
Allah berfirman dalam surat Al-Isra' ayat 78 yang artinya :
"Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pada saat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)".
Selain keutamaan yang dijelaskan oleh ayat tersebut, ada banyak keutamaan lain yang terkandung dalam shalat Isya dan Subuh, dan jika umat Islam mengetahui keutamaan tersebut niscaya mereka akan tergerak untuk menunaikan kedua shalat ini dengan kemantapan dan keikhlasan hati. Keutamaan tersebut termaktub dalam hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh HR Muslim, yaitu :
1. Barangsiapa yang shalat Isya berjamaah, maka seakan-akan dia shalat setengah malam. Dan barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka seakan-akan dia telah shalat semalam suntuk.
2. Dan rakaat fajar (shalat sunah sebelum Subuh) lebih baik dari dunia dan isinya.
3. Shalat Subuh sebagai cahaya di hari kiamat.
Semua manusia pasti pernah mengalami situasi gelap gulita ketika listrik padam, perasaan saat itu digambarkan begitu sumpeg, tidak tahu apa-apa, tak tahu arah, tak tahu letak sesuatu, dan  dikala gelap gulita itulah orang butuh cahaya, dengan cahara semua jadi jelas, perasaan jadi senang. Demikian pula ketika orang telah mengetahui keutamaan shalat Isya dan Subuh ia akan dengan senang hati melaksanakannya.
Bagi orang-orang munafik, shalat Subuh dan Isya merupakan kewajiban yang sangat berat. Sebagaimana disebutkan dalam dalam sebuah hadis shahih : "Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan Subuh". (HR Bukhari-Muslim).
Ada 6 sifat orang munafik dalam melaksanakan shalat, yaitu : "Malas saat hendak melaksanakannya, agar dilihat orang (riya), mengakhirkan waktu, tergesa-gesa melakukannya, hanya sedikit mengingat Allah dan enggan menghadiri shalat berjamaah".
Kumandangkanlah adzan Subuh dengan suara syahdu, sehingga pendengar tersentuh jiwa dan kalbunya dan segera bangkit untuk memenuhi panggilannya. Saat ini sudah sangat jarang muadzin yang memiliki suara merdu dan syahdu, bahkan terkesan asal-asalan, oleh sebab itu para pemuda hendaklah memiliki keinginan untuk berlatih menjadi seorang muadzin yang baik.

Monday, April 3, 2017

KEISTIMEWAAN AL-QURAN

Al-Quran diturunkan Allah melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw pada bulan Ramadhan, ketika Nabi berada di Gua Hira. Selanjutnya Al-Quran diturunkan secara bertahap kepada beliau selama kurang lebih 23 tahun. Al-Quran adalah kitabullah terakhir yang diturunkan dan diterima Nabi. Kitabullah itu diturunkan dengan maksud dan tujuan "mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Terpuji" (QS Ibrahim 1).
Al-Quran memiliki banyak keistimewaan, salah satunya adalah sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw dan menjadi bukti kenabian beliau. Kitabullah itu hakikatnya adalah Risalah Allah yang merupakan risalah penutup kenabian.
Al-Quran memiliki bahasa sastra yang indah dengan ayat-ayatnya tidak lekang seiring perjalanan waktu, ia tetap eksis dan revelan dari sejak dahulu, kini dan masa yang akan datang.
Keistimewaan lain adalah Al-Quran itu bersifat kekal dalam artian Al-Quran berlaku untuk setiap generasi manusia, tidak hanya berlaku untuk satu atau beberapa generasi dan setelah itu tidak lagi berarti dan perlu diganti. Dengan kata lain Al-Quran berlaku sepanjang masa, selama dunia masih memancarkan sinar kehidupan. Dan Al-Quran senantiasa terpelihara dari penyimpangan, perubahan, pengurangan dan penambahan. Allah menjamin terpeliharanya Al-Quran, sebagaimana termaktub dalam firmanNya surat Al-Hijr 9 : "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya".
Al-Quran bersifat universal, artinya Al-Quran diturunkan untuk seluruh umat dan sekaligus untuk alam semesta. Al-Quran tidak bersifat sektarian, artinya ayat-ayat dalam Al-Quran tidak hanya berlaku bagi suku bangsa dan penduduk yang tinggal di negeri tertentu, tidak terbatas bagi orang-orang yang berkulit warna tertentu dan berbahasa tertentu, tetapi berlaku bagi semua suku dan bangsa tanpa memandang warna kulit dan bahasa yang digunakan, serta tinggal di negeri manapun.
Al-Quran pada garis besarnya berisi akidah, ibadah, akhlak dan mu'amalah duniawiyah. Al-Quran mempunyai bannyak fungsi diantaranya sebagai hudan (petunjuk), furqan (pembeda antara yang baik dan yang buruk), busyro (berita gembira), nur (cahaya yang menerangi kehidupan manusia), tibyan (penjelasan secara garis besar), syifaaush shudur (obat bagi penyakit rohani) dan mushaddiq (pembenar terhadap kitab yang datang sebelumnya). Dan yang terakhir Al-Quran adalah sebagai sumber acuan dasar atau sumber asasi Islam yang pertama.


Sunday, April 2, 2017

PENTINGNYA BERILMU

Dalam era modern dan era masyarakat industri sekarang ini, peranan ilmu pengetahuan dan teknologi yang di dukung oleh kemampuan akal dalam memajukan segala aspek kehidupan manusia menjadi sangat dominan. Dan peranan orang-orang berilmu menonjol sekali dalam membangun dan memajukan masyarakatnya, baik itu agamanya maupun bangsanya.
Secara duniawi kedudukan mereka yang berilmu tersebut lebih terhormat dan lebih disegani, sedangkan secara ukhrowi, derajat mereka pun di hadapan Allah ditinggikan beberapa derajat, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Mujadalah 11 : "Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat".
Dengan ilmu pengetahuan, manusia yang diciptakan Allah sebagai Khalifah dimuka bumi ini akan berkemampuan membuka tabir tanda-tanda zaman dan mampu memanfatkan serta mengolah segala apa yang ada di bumi ini bagi kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Dan dengan ilmu pengetahuan pula lah manusia dapat membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah, seperti membuat sarana-sarana transportasi yang dahulu terasa tidak mungkin menjadi mungkin, misalnya pesawat terbang.
Untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah dan juga beribadah kepadaNya serta bermu'amalah kepada sesama makhluk pun tentunya diperlukan ilmu, misalnya dalam melaksanakan ibadah shalat, seseorang diwajibkan memiliki pengetahuan tentang shalat sehingga shalatnya pun menjadi benar. Contoh lain adalah banyak kaum lemah yang tidak bisa mengubah nasibnya karena mereka tidak berilmu. Di sinilah letak perbedaannya. Allah berfirman dalam QS Az-Zumar 9 : "Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui".
Kaum muslimin tentunya memerlukan ilmu pengetahuan yang mengandung nilai-nilai Ilahiyah sehingga dapat mengenal Allah dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman dalam QS Al-Alaq 1-5 : "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya". 
Sedangkan untuk menjadi orang berilmu tentu saja banyak jalannya, bisa lewat pendidikan formal atau  pun lewat jalur non formal, sebab dunia ini pada dasarnya merupakan lembaga pendidikan sepanjang manusia itu hidup. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda : "Siapa yang berjalan di suatu jalan untuk menuntut ilmu pengetahuan, Allah akan memudahkannya jalan menuju ke sorga." (HR Muslim).

Saturday, April 1, 2017

MENYIKAPI MUSIBAH

Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah 154-157: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit kesulitan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila di timpa musibah, mereka mengucapkan : Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk".
Berdasarkan firman Allah di atas, dapat diketahui bahwa Allah akan selalu memberikan berbagai bencana dan musibah kepada umat manusia, tujuannya adalah untuk mengukur sejauh mana kekuatan dan kesabaran manusia menerimanya.
Bila ditinjau dari syari'at Islam, maka bencana dan musibah itu dapat dibagi menjadi dua kemungkinan:
1. Sebagai ujian bagi orang beriman.
    Allah berfirman dalam Qs.Muhammad 31: "Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ikhwalmu". 
     Dari firman Allah tersebut dapat diambil maknanya bahwa Allah Swt akan menguji keimanan, kesabaran dan semangat jihad, oleh sebab itu dengan ujian ini setiap muslim akan semakin kuat dan mantap kualitas imannya.

2. Sebagai adzab Allah.
    Bila umat manusia telah melampaui batas dengan perbuatan durhaka, kufur dan kemaksiatan merajalela, sementara umat lainnya sudah tidak mampu menghentikannya, maka disitulah Allah akan menurunkan adzabnya, sebagaimana umat nabi Nuh as yang ditimpa banjir yang dahsyat, umat nabi Luth yang ditimpa gempa bumi, Firaun dengan bala tentaranya yang ditenggelamkan di laut Merah dan masih banyak lagi. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS Ali Imran 112; "Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada kecuali jika mereka berpegang pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah, dan mereka diliputi kerendahan".

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa umat manusia terutama orang yang beriman akan selalu diuji dan dicoba oleh Allah Swt, semua itu untuk mengukur sejauh mana kuat dan lemahnya iman mereka. Sedangkan Adzab yang diberikan kepada umat manusia terdahulu dan umat sekarang itu lebih dikarenakan perbuatan mereka sendiri yang sudah berlaku durhaka dan melampaui batas. Oleh sebab itu orang beriman harus pandai membaca sejarah umat manusia terdahulu hingga dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa tersebut, kemudian melakukan pertobatan dan bersabar dalam menghadapi musibah, meningkatkan keimanan, memperbanyak ibadah dan amal shalih.
Allah berfirman dalam Qs Az-Zumar 53:"Katakanlah hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Dialah yang maha Pengampun dan Penyayang".

Tuesday, March 28, 2017

SHALAT ISTISQA

Allah menciptakan bumi ini dengan bermacam-macam musim. Di wilayah-wilayah tropis yang terbentang di sekitar garis khatulistiwa hanya terdapat dua musim saja, yaitu musin hujan dan kemarau. Lama masing-masing musim tersebut kurang lebih enam bulan, tapi kadang-kadang musim tidak menentu, adakalanya musin hujan datang lebih lama atau sebaliknya. Jika terjadi musin kemarau dengan jangka waktu sangat lama maka keadaan di bumi menjadi kekurangan air. Semua sumber-sumber air seperti mata air, sumur, bahkan sungai menjadi kering. Kelanjutan dari itu, kebun dan sawah tidak bisa ditanami, binatang banyak yang mati karena kehausan. Air pun menjadi barang yang langka. Jika sudah begitu terasa betapa pentingnya fungsi dan peranan air bagi kehidupan makhluk di dunia ini.
Sesuai dengan sifat manusia yang serba terbatas dan banyak kekurangan, tentunya tidak memiliki daya dan kekuatan untuk membuat hujan yang cukup selain dengan memohon pertongan kepada-Nya.
Cara memohon kepada Allah supaya diturunkan hujan itu ada tiga cara :
1. Dengan mengerjakan shalat istisqa
    Shalat istisqa dilaksanakan di tempat terbuka, pada umumnya di lapangan sebagaimana shalat ied. Banyaknya rakaat adalah 2 rakaat, dikerjakan secara bersama-sama atau berjamaah. Dalam shalat istisqa tidak dilakukan adzan dan iqamah.
    Setelah membaca surat Al-Fatihah, pada rakaat pertama membaca surat Al-A'la dan pada rakaat kedua membaca surat Al-Ghaasyiyah. Bacaannya dikeraskan.
    Setelah selesai mengerjakan shalat, dilanjutkan dengan khutbah yang isinya antara lain menerangkan pujian, kebesaran Allah, nasihat, memohon ampunan (istighfar) dan membaca doa istisqa. Rasulullah banyak mencontohkan doa istisqa, diantaranya adalah:
    "Semua puji bagi Allah, yang memelihara sekalian alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang empunyai hari pembalasan. Tidak ada lagi Tuhan melainkan Allah. Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Ya Allah, Engkaulah Tuhan, tidak ada lagi Tuhan melainkan engkau. Engkau Maha Kaya, sedangkan kami fakir. Turunkanlah hujan kepada kami, dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan itu kekuatan dan bekal kami bagi kami satu masa yang panjang." (HR Abu Daud)
2. Pada shalat Jum'at
    Jika meminta hujan dilakukan pada saat shalat Jum'at, tidak perlu dilakukan shalat khusus istisqa, tetapi dilakukan dengan berdoa ketika khutbah. Doanya adalah:
    "Ya Allah turunkanlah hujan, ya Allah turunkanlah hujan, ya Allah turunkanlah hujan." (HR Bukhari-Muslim)
3. Tidak pada keduanya
    Meminta hujan tidak dengan mengadakan shalat khusus istisqa dan tidak pula pada shalat Jum'at, tetapi meminta hujan dengan cara berdoa sambil berdiri di atas mimbar atau duduk di masjid. Bacaan doanya adalah:
   "Ya Allah Tuhan kami, berilah kami hujan yang menghilangkan kesulitan, yang baik lagi menyuburkan, meratakan lagi banyak, dengan cepat tidak terlambat." (HR Ibnu Majah)

Monday, March 27, 2017

I'TIKAF

Secara bahasa i'tikaf memiliki arti berdiam diri di masjid dan beribadah dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.  Di dalam Al-Quran, perintah tentang i'tikaf terdapat pada Qs Al-Baqarah 187 : "Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu berit'tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya bertakwa".
Hukum i'tikaf ada tiga :
1. Wajib, yaitu i'tikaf bagi orang yang bernazar.
2. Sunnah mu'akkadah, yaitu i'tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan dengan alasan Rasulullah selalu melakukannya sampai beliau wafat, kemudian dilanjutkan oleh istrinya, sebagaimana Hadis yang diriwayatkan dari Aisyah ra : "Nabi Saw selalu beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah Azza wa Jalla mewafatkannya, kemudian istri-istrinya beri'tikaf setelah beliau wafat." (Hr Bukhari; Muslim).
3. Mustahab (dianjurkan), yaitu i'tikaf yang dapat dilaksanakan kapan saja selain sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan dengan syarat dia bukan orang yang bernazar.

Orang yang beri'tikaf wajib melaksanakan rukun i'tikaf yaitu berdiam di masjid dan tidak keluar kecuali ada kebutuhan (hajat) atau dalam keadaan darurat. Selain itu ia tidak boleh keluar kecuali karena ada alasan yang jelas dan ada kebutuhan mendesak. Sebagaimana hadis Rasul yang diriwayatkan dari Aisyah ra : "Adapun sunnah bagi orang yang beri'tikaf itu tidak menjenguk orang sakit, tidak mengiringi jenazah, tidak menyentuh dan menggauli wanita, dan tidak keluar (masjid) kecuali karena ada keperluan yang mendesak." (Hr Abu Dawud).
Adapun hal-hal yang membatalkan i'tikaf adalah : Keluar tanpa alasan syariat seperti keluar untuk jual beli yang bukan kebutuhan primer atau bukan merupakan kebutuhan alamiah manusia (buang air besar dan kecil) atau bukan kebutuhan darurat seperti robohnya masjid; berjimak antara suami istri dan hal-hal yang mendorong ke arah itu; orang yang murtad; orang yang mabuk; perempuan yang haid dan nifas karena keduanya termasuk junub.
Waktu pelaksanaan i'tikaf adalah pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Waktu awal dimulainya i'tikaf adalah setelah shalat fajar, sebagaimana hadis Rasul yang diriwayatkan dari Aisyah ra : "Adalah nabi Saw apabila ia hendak beri'tikaf beliau shalat fajar kemudian beliau masuk ke tempat i'tikafnya." (Muttafaq 'Alaih). Sebagian ulama berpendapat bahwa i'tikaf juga dapat dilakukan pada waktu-waktu tertentu, jika ingin beri'tikaf dimalam hari maka waktu dimulainya adalah pada saat matahari terbenam.
Bekerja adalah salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi, oleh karena itu diperbolehkan bagi seseorang yang beri'tikaf untuk keluar bekerja pada siang harinya, dan ia keluar hanya semata-mata untuk bekerja, tidak melakukan perbuatan lain seperti tidur sebentar di rumah atau melakukan kegiatan yang bukan menjadi kebutuhan pokok maka i'tikaf yang dilakukannya tidak batal dan ia dapat melanjutkan i'tikafnya tanpa dengan niat baru. Dan jika seseorang keluar untuk bekerja lalu diselingi dengan perbuatan-perbuatan yang bukan termasuk kebutuhan pokok maka i'tikafnya telah batal dan ia harus memulai dengan niat baru ketika hendak beri'tikaf lagi.